Minggu, 15 Desember 2024

DEEP LEARNING

 

JOYFUL LEARNING

Oleh : Ummi Masruroh, M.Pd.


 

Idiom yang menyatakan bahwa ganti Menteri ganti  kurikulum sepertinya tidal terlalu salah, setidaknya selalu saja ada yang diubah oleh pak Menteri Pendidikan yang baru. Terlepas dari motivasinya, apakah sekedar biar nampak berbeda atau benar-benar karena  perubahan tersebut sangat urgen untuk dilakukan dengan sebelumnya  melalui kajian-kajian yang sudah dilakukan ? Pada kenyataannya Menteri Pendidikan yang baru dalam kabinet merah putih ini cukup menarik ide-idenya. Diantaranya adalah tawaran penggunaan konsep pembelajaran  Deep Learning Ful-Ful yaitu konsep pembelajaran yang menggabungkan tiga elemen, yaitu Mindful Learning, Meaningful Learning, dan Joyful Learning. Konsep yang bertujuan untuk menciptakan lingkungan belajar yang tidak hanya berfokus pada pengetahuan, tetapi juga memberikan pengalaman

 

Joyful learning merupakan salah satu dari model pembelajaran yang dinarasikan oleh Bapak Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah yang baru Prof. DR. Abdul Mukti, M.Ed untuk diterapkan di sekolah-sekolah di Indonesia. Pak Menteri sangat berharap pembelajaran di sekolah jangan menjadi momok bagi siswa, melainkan justru menjadikan siswa selalu rindu untuk belajar dan datang ke sekolah. Dengan proses belajar mengajar yang menyenangkan dan tidak tegang, menjadikan  interaksi antara pendidik dan peserta didik lebih dekat dan menyenangkan, serta terciptanya lingkungan belajar yang menginspirasi. 

Beberapa prinsip dan karakteristik model pembelajaran joyful learning, yaitu :

  • Siswa diposisikan sebagai subjek pembelajaran, bukan sekadar objek, misal dengan membuat permainan-permainan berbasis tim.
  • Pola hubungan yang baik diciptakan  antara guru dan siswa , hubungan saling menghormati dan menyayangi, misalnya dengan interaksi pelukan, tos dan lain sebagainya saat masuk kelas  bagi siswa TK, atau kegiatan-kegiatan lain untuk siswa pada tingkatan lebih tinggi.
  • Membuat siswa merasa terlibat dalam proses pembelajaran, misalkan dengan mengajak siswa untuk membuat model atau ilustrasi visual dari konsep yang dipelajari 
  • Mengurangi ketegangan dalam proses pembelajaran sehingga siswa tertarik mengikuti pembelajaran tanpa ada rasa beban atau tertekan, dengan menggunakan media audio visual sebagai media, atau belajar sambil diiringi music, dls,
  • Memotivasi siswa untuk semangat belajar dengan menggunakan gamifikasi, seperti memberikan poin, tantangan, atau penghargaan untuk setiap pencapaian siswa 
  • Membantu siswa cepat menangkap informasi dan tersimpan pada memori jangka Panjang, dengan menggunakan pertanyaan untuk berpikir kritis dan analitis.

Kegiatan belajar mengajar yang dilaksanakan secara tatap muka tentu  mengimplementasikan model pembelajaran yang  merupakan runtutan langkah yang dilakukan guru dalam melaksanakan pembelajaran mulai dari awal hingga akhir kegiatan. Menurut Permendikbud RI No. 103 Tahun 2014 menyebutkan bahwa pembelajaran dilaksanakan berbasis aktivitas yang interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, dan memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif dalam kegiatan pembelajaran. Berdasarkan peraturan tersebut, maka seorang guru perlu menerapkan model pembelajaran yang bervariatif dan inovatif agar bisa menciptakan suasana kelas yang kondusif dan menyenangkan.

Namun, apakah sekolah di Indonesia sudah menerapkan model pembelajaran inovatif dan menyenangkan dalam pembelajarannya ?

Dua model pembelajaran yang sampai saat masih banyak digunakan oleh guru di sekolah-sekolah di Indonesia adalah  pembelajaran langsung (direct learning) dan metode diskusi kelompok. Padahal kedua model pembelajaran ini belum termasuk ke dalam pembelajaran yang menyenangkan, menantang, dan memotivasi siswa untuk berpartisipasi aktif dalam pembelajaran. Oleh karenanya, wacana tentang penggunaan model pembelajaran Joyfull Learning oleh Menteri Pendidikan, adalah merupakan suatu harapan baru,sebagai salah  satu solusi untuk  menciptakan kegiatan belajar mengajar secara menyenangkan, relaks (tidak tegang), diselingi humor, yel-yel, ice breaking, maupun ada brain gym (senam otak). Tujuan dari model pembelajaran joyful learning adalah meminimalisir ketegangan saat proses pembelajaran sehingga siswa tertarik mengikuti pembelajaran. Pembelajaran joyful learning juga dapat memotivasi siswa untuk semangat belajar karena siswa tidak merasa tertekan atau takut terhadap gurunya.

Namun demikian, narasi maupun konsep sebagus apapun kalau tidak dibarengi dengan upaya riil mengadakan pelatihan-pelatihan bagi  guru, agar guru mampu mempraktekkan untuk siswa mereka di sekolah – sekolah mereka, tentunya tidak ada gunanya. Guru tetap akan kembali kepada gaya dan model pembelajaran semula dengan ceramah atau berkelompok sebagai satu-satunya model pembelajaran yang telah dikuasainya.

Joyful learning tidak hanya bisa diterapkan pada pendidikan dasar, namun bisa juga diterapkan untuk pendidikan menengah dan pendidikan tinggi. Dari siswa SD hingga mahasiswa diharapkan memiliki antuasias yang tinggi  dalam belajar dengan menggunakan model pembelajaran  joyful learning. Hal ini berkaitan dengan hormon “bahagia” dopamin, serotonin, endorfin manusia yang berkaitan dengan sensasi menyenangkan. Hormon “bahagia” akan membantu siswa untuk cepat menangkap informasi dan antusias mengikuti pembelajaran sehingga akan tersimpan pada memori jangka panjang siswa. Sebaliknya, jika suasana kelas menegangkan dan menakutkan, maka siswa akan kesulitan  menangkap informasi dan kehilangan semangat untuk mengikuti pembelajaran.

Tahapan pembelajaran joyfull learning

Langkah-langkah pada pada pembelajaran Joyful learning, antara lain adalah  tahap persiapan, tahap penyampaian, tahap pelatihan, dan tahap penutup.

Tahap Persiapan, pada tahap persiapan ini pendidik dapat menstimulus siswa agar memiliki rasa ingin tahu dan minat terhadap pembelajaran. Guru dapat memberikan apersepsi yang berkaitan dengan kondisi nyata atau berdasar pengalaman siswa.

Tahap Penyampaian, pada tahap ini guru dapat menyampaikan materi ajar dengan menerapkan metode, media, dan model pembelajaran yang bervariatif. Siswa berpartisipasi aktif dan penuh pada tahap ini, misal dengan presentasi, diskusi kelompok, tanya jawab interaktif, dan sebagainya. Guru menyampaikan materi dengan menyenangkan, diselingi humor, melakukan tanya jawab interaktif, memberikan yel-yel/ice breaking/brain gym untuk mengecek konsentrasi siswa.

Tahap Pelatihan, siswa mempraktikkan keterampilan yang diajarkan guru dan mendapatkan umpan balik dari pembelajaran. Guru dapat memberikan kuis atau game edukasi untuk tindak lanjut hasil pembelajaran. Hal ini bertujuan untuk mengecek pemahaman siswa terhadap materi ajar yang disampaikan guru. Pada tahap penutup, guru memberikan kesimpulan dan tugas pengembangan materi ajar. Guru juga dapat menanyakan perasaan siswa terkait proses pembelajaran yang disampaikan.

Tips dalam penerapan joyful learning

Dalam pelaksanaan  joyful learning, untuk  menciptakan suasana belajar yang rileks dan menyenangkan, guru hendaknya menggunakan metode pembelajaran yang bervariatif, untuk meningkatkan aktivitas serta kreativitas siswa. Guru perlu membangun komunikasi yang aktif dengan siswa, menguasai kelas dengan kondusif, dan  memahami berbagai jenis ice breaking/brain gym. Guru juga harus memiliki kreativitas yang tinggi agar pelaksanaan pembelajaran dapat menyenangkan, menantang, dan memotivasi siswa untuk berpartisipasi aktif dalam pembelajaran. U-ma

 

Kamis, 28 Desember 2023

Pembelajaran Matematika Realistik

 

 Pembelajaran Matematika Realistik




Freudenthal, Sekitar tahun 1971,  memperkenalkan suatu model baru dalam pembelajaran matematika yang akhirnya dikenal dengan nama Realistic Mathematics Education (RME), makna Indonesianya adalah pendidikan matematika realistik dan secara operasional disebut sebagai Pembelajaran Matematika Realistik (PMR).

PMR awalnya dikembangkan di negeri Belanda. Pendekatan ini didasarkan pada konsep Freudenthal yang mengatakan bahwa matematika merupakan aktivitas manusia (human activities), ide utamanya adalah siswa harus diberi kesempatan untuk menemukan kembali ide dan konsep matematika dengan atau tanpa bimbingan orang dewasa. Upaya ini dilakukan melalui penjelajahan berbagai situasi dan persoalan-persoalan "realistik" yakni yang berkaitan dengan realitas atau situasi yang dapat dibayangkan siswa.

Soedjadi (2001:2) mengemukakan bahwa pembelajaran matematika realistik pada dasarnya adalah pemanfaatan realitas dan lingkungan yang dipahami peserta didik untuk memperlancar proses pembelajaran matematika sehingga dapat mencapai tujuan pendidikan matematika secara lebih baik daripada masa yang lalu. 

Dalam PMR siswa belajar mematematisasi masalah-masalah kontekstual. Proses ini disebut matematisasi horisontal. Pada mulanya siswa akan memecahkan masalah secara informal (menggunakan bahasa mereka sendiri). Tetapi setelah beberapa waktu, setelah siswa familiar dengan proses-proses pemecahan yang serupa (melalui simplifikasi dan formalisasi), mereka akan menggunakan bahasa yang lebih formal, dan diakhiri proses siswa akan menemukan suatu algoritma. Proses yang dilalui siswa sampai mereka menemukan algoritma disebut matematisasi vertikal.  

Pembelajaran matematika dengan pendekatan realistik memanfatkan masalah kontekstual  yang mudah difahami siswa kemudian siswa diberi kesempatan seluas-luasnya untuk menyelesaikan masalah yang diberikan secara mandiri sesuai dengan pengetahuan awal yang dimilikinya. Kegiatan ini mengandung arti bahwa siswa diberi kesempatan untuk mendeskripsikan, menginterpretasi dan mencari strategi yang sesuai. Dalam hal ini keaktifan siswa lebih diutamakan, guru hanya berperan sebagai fasilitator. Siswa bebas mengeluarkan idenya, mengkomunikasikan ide-idenya satu sama lain. Guru membantu siswa (secara terbatas) untuk membandingkan ide-ide itu dan membimbing mereka mengambil keputusan tentang ide mana yang paling tepat, efisien dan mudah dipahami oleh mereka. Dalam kaitannya dengan matematika sebagai aktivitas manusia maka siswa telah diberi kesempatan seluas-luasnya untuk menemukan kembali ide dan konsep matematika secara mandiri sebagai akibat dari pengalaman siswa dalam berinteraksi dengan masalah kontekstual. Setelah pembentukan  dan menemukan konsep-konsep matematika, siswa menggunakannya untuk menyelesaikan masalah kontekstual sebagai aplikasi untuk memperkuat pemahaman konsep pada dunia nyata

    Teori Piaget tentang perkembangan intelektual ini menggambarkan suatu proses dimana anak secara aktif membangun pengetahuan dan pemahamannya dari hasil pengalaman dan interaksi dengan lingkungannya dengan terus-menerus melakukan asimilasi dan akomodasi terhadap informasi baru yang diterima.. Teori Piaget sangat relevan dengan PMR. Karena dalam PMR juga memfokuskan pada proses berpikir siswa, bukan pada hasil. Di samping itu PMR mengutamakan peran siswa berinisiatif untuk menemukan jawaban dari masalah kontekstual yang diberikan oleh guru dengan caranya sendiri dan siswa didorong untuk terlibat aktif dalam kegiatan pembelajaran. Dengan demikian, langkah-langkah pembelajaran matematika realistik terkait dengan teori Piaget, yaitu pada:

a)     Langkah ke-1 (memahami masalah kontekstual), proses asimilasi dan akomodasi berlangsung dalam pikiran siswa ketika memahami masalah kontekstual yang diberikan.

b)     Langkah ke-2 (menyelesaikan masalah kontekstual), siswa secara aktif membangun pemahamannya dari hasil pengalaman dan interaksi dengan lingkungannya. Di samping itu proses asimilasi dan akomodasi masih tetap berlangsung dalam menyelesaikan masalah.

c)     Langkah ke-4 (menyimpulkan), mengorganisasi proses-proses psikologi menjadi sistem-sistem yang teratur dan berhubungan (struktur).

Ausubel (dalam Hudojo, 1988: 56), mengemukakan bahwa belajar dikatakan bermakna bila informasi yang dipelajari siswa disusun sesuai dengan struktur kognitif siswa. Dengan demikian siswa dapat mengaitkan pengetahuan barunya dengan struktur kognitif yang ia miliki. Dengan belajar bermakna siswa akan dapat mengingat lebih lama tentang apa yang ia pelajari. Di samping itu proses transfer belajar menjadi lebih mudah dicapai.

Adanya struktur kognitif dalam mental siswa merupakan dasar untuk mengaitkan struktur kognitif itu dengan informasi baru. Banyaknya pengetahuan yang dapat dipelajari siswa tergantung pada banyaknya informasi yang sudah ia ketahui. Menurut Ausubel, menghafal berlawanan dengan belajar bermakna. Menghafal pada hakekatnya mendapatkan informasi yang terisolasi sedemikian rupa sehingga siswa tidak dapat mengaitkan informasi yang diperoleh ke dalam struktur kognitifnya. Oleh karena itu, pembelajaran hendaklah lebih mengutamakan pengertian dari pada hafalan.

 Di samping itu keterkaitan antara informasi yang akan dipelajari siswa dengan struktur kognitif yang telah dimiliki siswa dalam PMR nampak pada masalah-masalah kontekstual yang diberikan disesuaikan dengan lingkungan siswa, sebagai hal-hal yang nyata dan dapat diamati atau sekurang-kurangnya dapat dibayangkan oleh siswa. 

 



                  

Prinsip Pembelajaran Matematika Realistik

Ada tiga prinsip kunci dalam mendesain pembelajaran matematika realistik, yaitu: (a) guided reinvention and progressive mathematizing, (b) didactical phenomenology dan (c) self-developed models. Ketiga prinsip tersebut dapat dijelaskan secara singkat sebagai berikut (Gravemeijer (1994:90) ) :

a.   Penemuan kembali secara terbimbing dan proses matematisasi secara progresif (guided reinvention and  progressive mathematizing)

Berdasarkan prinsip reinvention, para siswa semestinya diberi kesempatan untuk mengalami proses yang sama dengan proses saat konsep-konsep matematika ditemukan. Sejarah matematika dapat dijadikan sumber inspirasi dalam merancang materi pelajaran. Selain itu prinsip reinvention dapat pula dikembangkan berdasarkan prosedur penyelesaian informal. Dalam hal ini strategi informal dapat difahami untuk mengantisipasi prosedur penyelesaian formal. Untuk keperluan tersebut, maka perlu dirumuskan masalah kontekstual yang dapat mengundang beragam prosedur penyelesaian yang mengindikasikan rute belajar melalui proses matematisasi progresif (Gravemeijer, 1994:90)

b.  Fenomena yang bersifat mendidik (didactical phenomenology)

Berdasarkan prinsip ini penentuan situasi yang mengandung penerapan topik matematika didasarkan pada dua pertimbangan, yaitu; (i) untuk mengungkapkan jenis aplikasi yang harus diantisipasi dalam pembelajaran, dan (ii) mempertimbangkan pantas tidaknya konteks itu sebagai hal yang berpengaruh dalam proses matematisasi progresif. Secara historis, matematika dikembangkan dari penyelesaian masalah praktis sehingga dimungkinkan ditemukan masalah yang melahirkan proses perkembangan dalam aplikasi terkini. Selanjutnya dapat dibayangkan bahwa matematika  formal terbentuk melalui proses generalisasi dan formalisasi prosedur-prosedur penyelesaian masalah situasi khusus dan konsep tentang berbagai situasi. Karena itu, tujuan investigasi fenomena ini adalah menemukan situasi-situasi masalah dengan prosedur penyelesaian dapat digeneralisasi dan untuk menemukan prosedur penyelesaian yang dapat dijadikan dasar untuk matematisasi vertikal. (Gravemeijer, 1994:90)

c.  Mengembangkan  sendiri model-model (self developed model)

     Pada prinsip ini dinyatakan bahwa model yang dikembangkan sendiri oleh siswa berperan menjembatani perbedaan antara pengetahuan informal dan matematika formal. Pada mulanya, model ini merupakan model yang sudah dikenal siswa. Melalui proses generalisasi dan formalisasi, model itu menjadi sesuatu yang berdiri sendiri, tidak tergantung pada situasi asalnya. Hal ini sangat mungkin digunakan sebagai model untuk penalaran matematika (Gravemeijer, 1994:91). Lebih lanjut Gravemeijer (1994:102) menyebutkan bahwa siswa belajar dari tahap situasi nyata, tahap pemodelan (referensi), generalisasi dan tahap formal matematika. Soedjadi (2001:4) menggambarkan bahwa urutan pembelajaran tersebut adalah: masalah kontekstual ® model dari masalah kontekstual ® model ke arah formal ® pengetahuan formal.

   Karakteristik Pembelajaran Matematika Realistik

            Tiga prinsip kunci PMR dalam implementasinya melahirkan karakteristik pembelajaran matematika realistik, yaitu: (1) the use of context , (2) the use of models, bridging by vertical instrument, (3) student contribution, (4) interactivity and (5) intertwining (Gravemeijer,1994:114, De Lange, 1987:75). Penjelasan dari kelima karakteristik tersebut, secara singkat sebagai berikut:

a.      Menggunakan masalah kontekstual (the use of context)

Pembelajaran diawali dengan menggunakan masalah kontekstual, tidak dimulai dengan sistem formal. Masalah kontekstual yang diangkat sebagai topik pembelajaran harus merupakan masalah sederhana yang ‘dikenal’ siswa.

b.     Menggunakan model (the use models, bridging  by vertical instruments)

Istilah model berkaitan dengan model situasi dan model matematika yang dikembangkan sendiri oleh siswa sebagai jembatan antara level pemahaman yang satu ke level pemahaman yang lain dengan menggunakan instrumen-instrumen vertikal seperti model-model, skema-skema, diagram-diagram, simbol-simbol dan sebagainya

c.      Menggunakan kontribusi siswa (student contribution)

Kontribusi yang besar pada proses belajar diharapkan datang dari siswa, artinya semua pikiran (konstruksi dan produksi) siswa diperhatikan

d.     Proses pengajaran yang interaktif (interactivity)

Mengoptimalkan proses mengajar-belajar dan terdapat interaksi yang terus-menerus antar siswa dengan siswa, siswa dengan guru dan siswa dengan sarana dan prasarana merupakan hal penting dalam pembelajaran matematika realistik, sedemikian hingga setiap siswa mendapatkan manfaat positif dari interaksi tersebut.

e.      Terintegrasi dengan topik lainnya (intertwining)

Matematika merupakan ilmu yang terstruktur. Oleh karena itu keterkaitan dan keterintegrasian antar topik (unit pelajaran) harus dieksplorasi untuk mendukung terjadinya proses mengajar belajar yang lebih bermakna. U-ma