JOYFUL LEARNING
Oleh : Ummi Masruroh, M.Pd.
Idiom yang menyatakan bahwa ganti
Menteri ganti kurikulum sepertinya tidal
terlalu salah, setidaknya selalu saja ada yang diubah oleh pak Menteri Pendidikan
yang baru. Terlepas dari motivasinya, apakah sekedar biar nampak berbeda atau
benar-benar karena perubahan tersebut
sangat urgen untuk dilakukan dengan sebelumnya melalui kajian-kajian yang sudah dilakukan ? Pada
kenyataannya Menteri Pendidikan yang baru dalam kabinet merah putih ini cukup
menarik ide-idenya. Diantaranya adalah tawaran penggunaan konsep
pembelajaran Deep Learning Ful-Ful yaitu
konsep pembelajaran yang menggabungkan tiga elemen, yaitu Mindful Learning,
Meaningful Learning, dan Joyful Learning. Konsep yang bertujuan untuk
menciptakan lingkungan belajar yang tidak hanya berfokus pada pengetahuan,
tetapi juga memberikan pengalaman
Joyful learning merupakan
salah satu dari model pembelajaran yang dinarasikan oleh Bapak Menteri Pendidikan
Dasar dan Menengah yang baru Prof. DR. Abdul Mukti, M.Ed untuk diterapkan di
sekolah-sekolah di Indonesia. Pak Menteri sangat berharap pembelajaran di sekolah
jangan menjadi momok bagi siswa, melainkan justru menjadikan siswa selalu rindu
untuk belajar dan datang ke sekolah. Dengan proses belajar mengajar yang
menyenangkan dan tidak tegang, menjadikan interaksi antara pendidik dan peserta didik
lebih dekat dan menyenangkan, serta terciptanya lingkungan belajar yang
menginspirasi.
Beberapa prinsip dan karakteristik model pembelajaran joyful
learning, yaitu :
- Siswa diposisikan sebagai subjek pembelajaran, bukan sekadar objek, misal dengan membuat permainan-permainan berbasis tim.
- Pola
hubungan yang baik diciptakan antara guru dan siswa , hubungan saling
menghormati dan menyayangi, misalnya dengan interaksi pelukan, tos dan
lain sebagainya saat masuk kelas bagi siswa TK, atau kegiatan-kegiatan lain
untuk siswa pada tingkatan lebih tinggi.
- Membuat
siswa merasa terlibat dalam proses pembelajaran, misalkan dengan mengajak
siswa untuk membuat model atau ilustrasi visual dari konsep yang
dipelajari
- Mengurangi
ketegangan dalam proses pembelajaran sehingga siswa tertarik mengikuti
pembelajaran tanpa ada rasa beban atau tertekan, dengan menggunakan
media audio visual sebagai media, atau belajar sambil diiringi music, dls,
- Memotivasi
siswa untuk semangat belajar dengan menggunakan gamifikasi, seperti
memberikan poin, tantangan, atau penghargaan untuk setiap pencapaian siswa
- Membantu
siswa cepat menangkap informasi dan tersimpan pada memori jangka Panjang,
dengan menggunakan pertanyaan untuk berpikir kritis dan analitis.
Kegiatan belajar mengajar yang
dilaksanakan secara tatap muka tentu mengimplementasikan model pembelajaran yang merupakan runtutan langkah yang dilakukan guru
dalam melaksanakan pembelajaran mulai dari awal hingga akhir kegiatan. Menurut
Permendikbud RI No. 103 Tahun 2014 menyebutkan bahwa pembelajaran dilaksanakan
berbasis aktivitas yang interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, dan
memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif dalam kegiatan
pembelajaran. Berdasarkan peraturan tersebut, maka seorang guru perlu
menerapkan model pembelajaran yang bervariatif dan inovatif agar bisa
menciptakan suasana kelas yang kondusif dan menyenangkan.
Namun, apakah sekolah di
Indonesia sudah menerapkan model pembelajaran inovatif dan menyenangkan dalam
pembelajarannya ?
Dua model pembelajaran yang
sampai saat masih banyak digunakan oleh guru di sekolah-sekolah di Indonesia adalah
pembelajaran langsung (direct
learning) dan metode diskusi kelompok. Padahal kedua model pembelajaran ini
belum termasuk ke dalam pembelajaran yang menyenangkan, menantang, dan
memotivasi siswa untuk berpartisipasi aktif dalam pembelajaran. Oleh karenanya,
wacana tentang penggunaan model pembelajaran Joyfull Learning oleh Menteri Pendidikan,
adalah merupakan suatu harapan baru,sebagai salah satu solusi untuk menciptakan kegiatan belajar mengajar secara
menyenangkan, relaks (tidak tegang), diselingi humor, yel-yel, ice breaking,
maupun ada brain gym (senam otak). Tujuan dari model pembelajaran joyful
learning adalah meminimalisir ketegangan saat proses pembelajaran sehingga
siswa tertarik mengikuti pembelajaran. Pembelajaran joyful learning juga
dapat memotivasi siswa untuk semangat belajar karena siswa tidak merasa
tertekan atau takut terhadap gurunya.
Namun demikian, narasi maupun konsep sebagus apapun kalau tidak
dibarengi dengan upaya riil mengadakan pelatihan-pelatihan bagi guru, agar guru mampu mempraktekkan untuk
siswa mereka di sekolah – sekolah mereka, tentunya tidak ada gunanya. Guru
tetap akan kembali kepada gaya dan model pembelajaran semula dengan ceramah
atau berkelompok sebagai satu-satunya model pembelajaran yang telah
dikuasainya.
Joyful learning tidak
hanya bisa diterapkan pada pendidikan dasar, namun bisa juga diterapkan untuk
pendidikan menengah dan pendidikan tinggi. Dari siswa SD hingga mahasiswa diharapkan
memiliki antuasias yang tinggi dalam
belajar dengan menggunakan model pembelajaran joyful learning. Hal ini berkaitan
dengan hormon “bahagia” dopamin, serotonin, endorfin manusia yang berkaitan
dengan sensasi menyenangkan. Hormon “bahagia” akan membantu siswa untuk cepat
menangkap informasi dan antusias mengikuti pembelajaran sehingga akan tersimpan
pada memori jangka panjang siswa. Sebaliknya, jika suasana kelas menegangkan
dan menakutkan, maka siswa akan kesulitan menangkap informasi dan kehilangan semangat untuk
mengikuti pembelajaran.
Tahapan pembelajaran joyfull learning
Langkah-langkah pada pada
pembelajaran Joyful learning, antara lain adalah tahap persiapan, tahap penyampaian, tahap
pelatihan, dan tahap penutup.
Tahap Persiapan, pada tahap
persiapan ini pendidik dapat menstimulus siswa agar memiliki rasa ingin tahu
dan minat terhadap pembelajaran. Guru dapat memberikan apersepsi yang berkaitan
dengan kondisi nyata atau berdasar pengalaman siswa.
Tahap Penyampaian, pada
tahap ini guru dapat menyampaikan materi ajar dengan menerapkan metode, media,
dan model pembelajaran yang bervariatif. Siswa berpartisipasi aktif dan penuh
pada tahap ini, misal dengan presentasi, diskusi kelompok, tanya jawab
interaktif, dan sebagainya. Guru menyampaikan materi dengan menyenangkan,
diselingi humor, melakukan tanya jawab interaktif, memberikan yel-yel/ice
breaking/brain gym untuk mengecek konsentrasi siswa.
Tahap Pelatihan, siswa
mempraktikkan keterampilan yang diajarkan guru dan mendapatkan umpan balik dari
pembelajaran. Guru dapat memberikan kuis atau game edukasi untuk tindak lanjut
hasil pembelajaran. Hal ini bertujuan untuk mengecek pemahaman siswa terhadap
materi ajar yang disampaikan guru. Pada tahap penutup, guru memberikan
kesimpulan dan tugas pengembangan materi ajar. Guru juga dapat menanyakan
perasaan siswa terkait proses pembelajaran yang disampaikan.
Tips dalam penerapan joyful learning
Dalam pelaksanaan joyful learning, untuk menciptakan suasana belajar yang rileks dan
menyenangkan, guru hendaknya menggunakan metode pembelajaran yang bervariatif, untuk
meningkatkan aktivitas serta kreativitas siswa. Guru perlu membangun komunikasi
yang aktif dengan siswa, menguasai kelas dengan kondusif, dan memahami berbagai jenis ice breaking/brain
gym. Guru juga harus memiliki kreativitas yang tinggi agar pelaksanaan
pembelajaran dapat menyenangkan, menantang, dan memotivasi siswa untuk
berpartisipasi aktif dalam pembelajaran. U-ma

Tidak ada komentar:
Posting Komentar