Jumat, 18 September 2015

IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013

IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013
     

 Pelaksanaan kurikulum 2013 yang sempat tertunda sedikit  membingu8ngkan bagi guru-guru yang sudah memproses diri dan pola pikirnya untuk berubah, meskipun tidak dapat dipungkiri sebagian yang lain justru merasa senang dengan kembalinya ke kurikulum KTSP. Kurikulum 2013  jika dilihat lebih objektif akan terasa sangat besar manfaatnya jika dilaksanakan dengan benar sesuai prosedur yang sudah diatur. Tidak ada yang salah dengan perubahan kurikulum yang terus dikembangkan oleh pemerintah, hanya memang butuh proses selama perubahan, dan itu sudah dimulai. Sebagian guru yang telah mencoba dengan sungguh-sungguh kurikulum ini telah  merasakan urgensinya untuk perubahan sistem pembelajaran di sekolah kedepan. 
          Kurikulum 2013 lebih menekankan pada tiga ranah yang perlu dinilai, jika sudah dilaksanakan Kurikulum 2013 kemudian ketiga ranah tersebut yang digarisbawahi maka Ujian Nasional sudah bukan lagi acuan kelulusan. Kurikulum 2013 lebih menekankan penilaian pada sikap, pengetahuan dan keterampilan. Sikap menjadi penilaian paling utama sebelum menilai kedua hal setelah itu. Dalam Kurikulum 2013 sikap tertuang dalam Kompetensi Inti (KI) satu sampai empat, dan termuat juga dalam Kompetensi Dasar (KD) satu dan dua. Pengetahuan baru dimulai pdaa KD tiga dan keterampilan di KD empat. Dengan demikian, penilaian siswa seluruhnya diserahkan pada sikap bukan hanya pada kognitif semata seperti pelaksanaan UN selama ini. Kurikulum 2013 akan sangat bertentangan dengan UN jika UN masih dilaksanakan. Alasannya, tentu saja UN hanya menilai pengetahuan siswa melalui angka-angka tanpa melihat sikap yang tidak bisa dinilai semudah menorehkan angka-angka.
           Dalam Kurikulum 2013 dikenal dengan pendekatan scientific. Pendekatan ini lebih menekankan pada pembelajaran yang mengaktifkan siswa. Pendekatan ini paling tidak dilaksanakan dengan melibatkan tiga model pembelajaran, di antaranya problem based learning, project based learning dan discovery learning. Ketiga model ini akan menunjang how to do yang dielu-elukan dalam Kurikulum 2013. 
         Pada dasarnya, ketiga model pembelajaran yang diharapkan terlaksana dalam Kurikulum 2013 tersebut, sudah dijalankan sebagian guru dalam pembelajaran selama ini. Model pembelajaran tersebut pun bukan lagi model lama yang mesti dipelajari guru. Kemudian muncul anggapan bahwa pembelajaran yang terjadi tidak bisa menghadirkan suasana nyaman pada siswa, hak itu kembali pada proses pembelajaran. Jangan pernah lupa; bahwa siswa punya tingkatan tersendiri dalam diri mereka. Ada yang diam. Ada yang aktif. Ada yang bandel. Ada yang malas. Soal kebodohan yang kata yang sama makna dengannya itu tidaklah ada dalam kamus pendidikan. Bodoh hanya milik orang-orang malas belajar dan membuang waktu percuma dengan berbagai masalah yang semakin terlarut dalam waktu. Maka, pelaksanaan Kurikulum 2013 pun akan mengalami hal yang serupa di kurikulum terdahulu jika paradigma masyarakat kita khususnya pelajar masih beranggapan bahwa guru adalah segala. Proses pembelajaran bukanlah mau guru dan mau kurikulum, guru hanya merencanakan dengan membuat skenario, kemudian guru menjadi sutradara, tinggal siswa-siswi yang berperan sesuai karakter yang sudah ditentukan. Hal yang mudah, dan sudah dilakukan selama ini bukan hanya di Kurikulum 2013 semata.
        Kurikulum 2013 akan diterapkan pemerintah secara universal dalam waktu dekat. Terdapat beberapa sekolah yang sudah melaksanakan Kurikulum 2013 dimulai dengan kelas sepuluh untuk tingkat SMA. Pada kurikulum 2013 tidak lagi dikenal dengan jurusan (dahulu IPA dan IPS), melainkan peminatan. Siswa yang masuk di SMA berkurikulum ini akan ikut tes dengan psikolog untuk menentukan minat dan bakatnya. Siswa yang lebih suka mengarang tentu akan sulit berinteraksi dengan pelajaran Matematika. Siswa yang cepat dalam berhitung tentu akan mudah mempelajari Fisika atau Kimia. Siswa yang senang interaksi dengan banyak orang tentu akan mudah menalar teori-teori dalam Sosiologi. Tes minat ini akan menentukan siswa akan masuk ke kelas eksak atau noneksak. Selain kelas minat, siswa juga bisa memilih pelajaran lintas minat sesuai ketentuan. Pelajaran lintas minat ini bisa mendukung pelajaran-pelajaran lain yang diajarkan di sekolah. Kecuali pelajaran wajib seperti Matematika (untuk IPA dan IPS berbeda materi ajar), bahasa Indonesia maupun Kewarganegaraan, siswa tidak punya alasan untuk meninggalkannya.
         Pelaksanaan Kurikulum 2013 seperti yang sudah dikatakan di atas, dilaksanakan melalui Pendekatan Scientific. Pada pelaksanaannya pendekatan ini menekankan pada lima aspek penting, yaitu mengamati, menanya, mencoba, menalar dan komunikasi. Lima aspek ini harus benar-benar terlihat pada pelaksanaan pembelajaran di lapangan. Hal ini sangat berbeda dengan pembelajaran selama ini cenderung dilakukan dengan metode ceramah. Tidak ada yang salah dengan metode ini, metode ceramah merupakan dasar melaksanakan setiap kegiatan. Pada Kurikulum 2013 metode ceramah tidak dilupakan, hanya saja dikurangi takarannya. Siswa dituntut lebih aktif dalam segala masalah. Lima aspek tersebut adalah :
1. mengamati 
Proses mengamati dilakukan siswa terhadap masalah yang diajarkan. Jika pelajaran Fisika, Kimia atau Biologi rasanya tidak ada masalah dalam proses mengamati. Kendalanya tentu pada pelajaran lain yang kurang alat dan bahan sehingga guru dituntut harus benar-benar paham materi sebelum menghadirkan siswa ke dunia nyata dengan mengamati sendiri fenomena yang terjadi. Proses mengamati ini sangatlah penting, di mana siswa menghadirkan angan menjadi nyata. Siswa tidak lagi mengkhayal dalam setiap pembelajaran, siswa sudah melihat langsung proses percobaan yang dituntun guru sebelum mencoba.
2. Menanya
Proses bertanya sudah bukan lagi barang baru. Siswa yang tidak berani bertanya selama sekolah akan terus diam terpaku sampai lulus. Siswa yang aktif bertanya akan terus menanyakan masalah yang tidak diketahuinya. Siswa yang aktif inilah yang dituntut dalam Kurikulum 2013. Bagaimana siswa harus bertanya? Hal ini dilakukan guru dengan membuka pembelajaran dengan menimbulkan masalah. Jika selama ini proses pembelajaran dimulai dengan pertanyaan apakah, di Kurikulum 2013 yang sangat berperan adalah pertanyaan mengapa dan bagaimana. Dengan demikian secara tidak langsung siswa sudah digiring untuk menelaah dan mencari-cari serta menanyakan semua permasalahan yang menganjal.
3. Mencoba
Pelaksanaan Kurikulum 2013 menuntut siswa untuk mencoba sendiri, ikut terlibat langsung dalam masalah yang dihadirkan guru. Jika dalam pembelajaran IPA guru memberi penuntun pelaksanaan percobaan lalu siswa melaksanakan percobaan tersebut. Dalam pelajaran lain, misalnya pembelajaran agama, siswa akan mencoba melaksanakan yang diamati. Misalnya, dalam melaksanakan shalat; semua proses pelaksanaan shalat siswa amati kemudian mencoba melaksanakan shalat, dan contoh-contoh lain. Mencoba akan membuat siswa sadar bahwa materi ajar penting dalam kehidupan mereka sehari-hari bukan lagi mengejar nilai. Siswa yang mencoba akan paham bahwa materi yang diajarkan guru berguna untuk mereka.
4. Menalar
Bagian ini yang paling sulit untuk sebagian siswa. Siswa dituntut untuk dapat memahami dengan benar pokok materi yang diajarkan guru. Pemahaman siswa tidak setengah-setengah yang kemudian menimbulkan keraguan dalam diri mereka. Proses penalaran inilah yang kemudian membuat siswa mencerna dengan baik, memilah baik buruk, lalu mendapatkan kesimpulan. Tidak mudah menalar suatu materi ajar apabila pelajaran yang diajarkan memberatkan mereka. Namun, siswa akan mudah mencerna pembelajaran jika siswa mampu konsentrasi terhadap pembelajaran yang sedang berlangsung.
5.Komunikasi
Hal terakhir yang diharuskan ada dalam Kurikulum 2013 adalah mengkomunikasikan semua permasalahan. Dalam hal percobaan IPA siswa bisa mempresentasikan hasil kerja mereka. Dalam hal agama, siswa bisa maju ke depan kelas mempraktekkan tata cara shalat dan lain-lain. Sehingga siswa mampu memahami dan menjalankan materi ajar dengan benar dalam kehidupan sehari-hari.
         Kelima aspek dalam pelaksanaan Kurikulum 2013 sangat berkaitan satu sama lain. Pada dasarnya, kelima aspek ini sudah pernah dilakukan oleh sebagian guru. Kurikulum boleh berganti setiap tahun karena masa juga terus berganti semakin canggih. Yang tidak boleh berganti tentu saja semangat kerja guru serta penghargaan pemerintah atas jerih payah guru dalam mendidik. Kurikulum 2013 akan terlaksana, tepat atau tidak, merata atau hanya di kota saja, semua tergantung kepentingan pemerintah terhadap pendidikan kita. 

Kamis, 16 Oktober 2014

GURU " DI GUGU LAN DI TIRU "


GURU " DIGUGU LAN DITIRU "
SEBUAH UPAYA MEMBANGUN KARAKTER ANAK BANGSA
Oleh :  Ummi Masruroh, M.Pd.

Membangun karakter bukanlah sesuatu yang mudah ibarat membalik telapak tangan, karena pengembangan karakter adalah merupakan sebuah upaya dalam rangka transformasi dan pembudayaan nilai-nilai moral dasar.
Ada banyak nilai karakter atau akhlak mulia yang harus diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari yang mana jika manusia mampu merealisasikan nilai-nilai tersebut dalam setiap sisi kehidupannya maka dia akan menjadi manusia paripurna atau insan kamil, dan itu bukanlah proses yang sederhana. Kondisi masa kini sangat berbeda dengan kondisi masa lau, dimana pendidikan karakter pada masa dahulu yang efektif dan mudah dilakukan, kini tidak lagi dapat diterapkan.
Sedangkan hal-hal yang dapat menghambat perkembangan anak juga menjadi pertimbangan dalam pengembangan karakternya. Perilaku anak dinyatakan terhambat apabila tidak sesuai dengan perilaku normative anak pada umumnya. Perilaku terhambat pada umumnya. Perilaku terhambat dapat dirunut dari sumbernya dan untuk menentukan suatu perilaku terhambat Cermati Perkembangan Anak atua tidak diperlukan adanya alat ukur yang valid, agar diperolehhasil pengukuran ( assesment ) yang akurat :
Ciri-ciri perilaku terhambat :
o   Perilaku anak sangat tidak sesuai dengan usianya.
o   Perilaku anak sudah sangat mengganggu, baik bagi anak maupun lingkungan.
o   Gangguan perilaku sudah terlalu sering muncul dan berlangsunglama.
o   Anak berusaha mempertahankan perilaku tersebut.
Faktor penyebab keterlambatan perkembangan karakter anak, diantaranya  :
o   Faktor internal yaitu faktor yang sudah dibawa sejaklahir, artinya potensi potensi tersebut sudah ada sejak anak dilahirkan ke dunia. Contoh : gen dari orangtua dan keluarga, kondisi fisik ibu saat kehamilan, kondisi psikologis saat kehamilan, nutrisi yang dikonsumsi ibu selama hamil.
o   Faktor eksternal yaitu faktor yang ditemui anak dalam proses perkembangan sejak masa bayi hingga perkembangan sejak masa bayi hingga gangguan perkembangan muncul. Contoh : Penerimaan orang tua dan keluarga atas kehadiran bayi / anak, pola asuh orang tua, status  sosial ekonomi orang tua, kondisi masyarakat setempat, sistem pendidikan formal.

Solusi Mengatasi masalah :
o   KASIH SAYANG. Kasih Sayang merupakan salah satu unsur makanan otak yang penting, dan benar-benar dibutuhkan oleh anak supaya bisa hidup. Kasih Sayang ternyata tidak hanya mempengaruhi perkembangan emosi anak, tetapi juga memberikan pengaruh besar terhadap arsitektur otak. Karena Kasih Sayang ini bentuknya sangat abstrak, kadang-kadang kita orangtua kurang memahami benar apa yang perlu kita lakukan untuk mengekspresikan kata Kasih Sayang ini.
o   INFORMASI. Informasi adalah makanan otak yang mampu membuat jaringan antar sel-sel otak saling bersambungan dengan kuat dan dalam jumlah yang sangat banyak. Seperti kita ketahui, kecerdasan seorang anak ditentukan seberapa banyak dan kuatnya jaringan antar sel-sel otaknya. Sumber informasi yang diterima oleh anak melalui panca inderanya berasal dari lingkungan alam dimana anak tinggal. Untuk itu kita perlu memberikan  sebanyak mungkin pengalaman berbagai hal supaya anak memperoleh sebanyak mungkin informasi. Selain alam, sumber informasi penting bagi anak adalah kita sebagai orangtua. Jawaban jawaban kita terhadap segala pertanyaan anak yang mana rasa ingin tahunya sedang berada di puncaknya ini akan menjadi informasi yang melekat kuat di dalam diri anak.
        o  Jangan Emosi Mendidik Anak
            Hasil penelitian mengatakan bahwa agresi psikologis bisa membuat anak menjadi sulit beradaptasi    

            atau bahkan berperilaku buruk, karena berbagai faktor. Bentuk penerapan disiplin yang terlalu keras 
            pada anak -- yang biasanya dilakukan orang tua yang masih muda usia -- sebaiknya jangan 
            dilakukan. Sebab bisa mempengaruhi mentalnya di masa mendatang. Kesimpulan hasil sebuah survei 
            tentang orang tua dan perilaku agresif terhadap anak yang dilakukan oleh Murray Straus, seorang 
            sosiolog dari University of New Hampshir. Menurut survei tersebut, membentak dan mengancam 
            adalah bentuk paling umum dari agresi yang dilakukan orang tua. Dibandingkan tindakan yang lebih 
            ekstrim lagi, seperti mengancam, memaki, dan memanggil dengan kasar dengan panggilan bodoh, 
            malas dan sebagainya, maka membentak memang paling banyak dilakukan.. Menurut Straus, 
            tindakan ini membawa efek psikologis jangka panjang bagi sang anak, dampaknya tidak langsung 
            kelihatan dan biasanya baru ketahuan setelah mereka semakin dewasa. Diantara akibatnya adalah 
            membuat anak menjadi sulit beradaptasi atau bahkan cenderungberperilaku buruk, karena berbagai 
            faktor. Misalnya, menjadi kurang percaya diri, atau sebaliknya, menjadi pemberontak. 

Selanjutnya beberapa hal terkait dengan pendekatan komprehensif dalam pendidikan karakter adalah dengan metode tradisional inkulkasi (penanaman) nilai dan pemberian teladan, yaitu :
1. mengkomunikasikan kepercayaan disertai dengan alasan yang mendasar
2. memperlakukan orang lain secara adil
3. menghargai pandangan orang lain
4. mengemukakan ketidakpercayaan atau keragu-raguan dengan alasan dan dengan rasa hormat
5. mengontrol lingkungan untuk meningkatkan kemungkinan penyampaian nilai yang dikehendaki dan 
    mencegah nilai yang tidak dikehendaki, meskipun tidak dapat dilakukan secara sepenuhnya.
6. Menciptakan pengalaman sosial dan emosional mengenai nilai-nilai yang dikehendaki.
7. membuat aturan, memberikan penghargaan, dan memberikan konsekuansi disertai alasan.
    tetap membuka komunikasi dengan pihak yang tidak setuju
8. memberikan kebebasan bagi adanya prilaku yang berbeda sepanjang masih dalam taraf toleransi, dan 
    diarahkan untuk memberikan kemungkinan berubah. 

Guru sebagai salah satu penanggung jawab lingkungan selama anak disekolah tidak sepenuhnya dapat membangun karakter siswa secara sepenuhnya tanpa dukungan yang kuat dari orang tua dan lingkungan sekitarnya. Meskipun demikian waktu yang tebatas dilingkungan sekolah setidaknya mampu memberikan warna dan suport bagi perubahan karakter siswa menjadi lebih baik dengan pendekatan yang tepat terutama dengan teladan yang diberikan kepada siswanya. Kedekatan guru dengan siswa merupakan modal dasar bagi guru dalam mengembangkan karakter siswa, bukan karena tuntutan program semata, melainkan karena panggilan nurani dan tanggung jawab mendidik generasi bangsa. Perkataan yang disampaikan guru adalah sebuah kitab suci bagi siswa yang akan selalu dijadikan menjadi dasar pengetahuannya, guru harus dapat mempertanggung jawabkan secara keilmuan setiap pengetahuan yang disampaikan kepada siswa, guru tidak boleh melakukan kesalahan dalam menyampaikan informasi tentang suatu pengetahuan maka guru dituntut untuk profesional dalam melaksanakan tugas profesinya. Disamping sebagai penghulu transfer pengetahuan pada siswa, gruru juga memiliki tanggung jawab untuk mendidik siswa menjadi insan kamil. Dalam tugas sebagai pendidik ini, guru disamping menyampaikan prinsip-prinsip kebenaran juga harus dapat menjadi model bagi siswa tentang penerapan kebenaran tersebut.
Fenomena akhir-akhir ini yang terjadi pada dunia pendidikan kita, sudah jauh dari kaidah pendidikan yang seharusnya. Lingkungan masyarakat, dan orang-orang terdekat siswa sendiri telah gagal memberikan contoh yang baik bagaimana menjadi manusia yang baik. Alih-alih menjadi insan kamil, rasa kemanusiaan yang mendasar yang dimiliki oleh setiap orang yaitu rasa persaudaraan, pertemanan, persahabatan telah banyak tercerabut berubah menjadi rasa saling iri, benci, memusuhi, saling menyakiti, bahkan menghabisi. Hal itu karena teladan dan model yang mereka lihat sehari-hari baik melalui media massa, maupun lingkungan disekitar mereka adalah yang demikian. Oleh karenanya, lingkungan sekolah yang terbatas oleh ruang dan waktu dapat lebih mudah dikondisikan menjadi sebuah model lingkungan yang baik bagi siswa, dengan pola aprilaku setiap warganya yang mampu menjadi teladan dan model kebaikan bagi siswa. Oleh karenanya Anekdot GURU sebagai Dapat DIGUGU dan DITIRU " adalah sebuah keharusan untuk ditampilkan didepan para siswa.

Wassalam, semoga bermanfaat.