Minggu, 23 November 2025

STRATEGI PENGEMBANGAN MADRASAH DI INDONESIA

 

MAKALAH

STRATEGI PENGEMBANGAN MADRASAH

Oleh Ummi Masruroh, M.Pd.

 

 

Sebuah gambar berisi bangunan, outdoor, jendela, pintu

Konten yang dihasilkan AI mungkin salah.

MOTTO :

MADRASAH MAJU BERMUTU MENDUNIA

2 0 2 5



1. Latar Belakang

Madrasah merupakan salah satu lembaga pendidikan Islam yang memiliki akar sejarah panjang di Indonesia. Sejak masa kolonial, madrasah hadir sebagai bentuk perlawanan kultural terhadap sistem pendidikan Barat yang sekuler. Madrasah menjadi wadah bagi masyarakat Muslim untuk mempertahankan identitas keagamaan sekaligus mengembangkan ilmu pengetahuan. Dalam perkembangannya, madrasah tidak hanya berfungsi sebagai lembaga pendidikan agama, tetapi juga mengintegrasikan ilmu pengetahuan umum sehingga menghasilkan lulusan yang memiliki keseimbangan antara kecerdasan intelektual dan spiritual.

Di era globalisasi saat ini, madrasah menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Perubahan sosial, perkembangan teknologi, serta tuntutan dunia kerja menuntut madrasah untuk melakukan inovasi. Lulusan madrasah diharapkan tidak hanya mampu memahami ajaran agama, tetapi juga memiliki keterampilan abad 21 seperti berpikir kritis, kreatif, komunikatif, dan kolaboratif. Hal ini sejalan dengan visi pendidikan nasional yang menekankan pada pembentukan manusia Indonesia yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, serta memiliki kompetensi global.

Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa banyak madrasah masih menghadapi berbagai keterbatasan. Kualitas guru yang belum merata, sarana prasarana yang minim, serta kurikulum yang belum sepenuhnya adaptif terhadap perkembangan zaman menjadi tantangan besar. Di sisi lain, peluang pengembangan madrasah juga terbuka lebar. Dukungan pemerintah melalui Kementerian Agama, tren pendidikan berbasis karakter, serta perkembangan teknologi digital dapat menjadi modal penting bagi madrasah untuk melakukan transformasi.

Oleh karena itu, diperlukan strategi pengembangan madrasah yang komprehensif dan berkelanjutan. Strategi ini harus mencakup aspek kurikulum, sumber daya manusia, sarana prasarana, manajemen, serta kolaborasi dengan berbagai pihak. Dengan strategi yang tepat, madrasah dapat menjadi lembaga pendidikan yang unggul, relevan, dan berdaya saing di tingkat nasional maupun internasional.

1.2. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam makalah ini adalah sebagai berikut:

  1. Apa saja strategi yang dapat diterapkan untuk mengembangkan madrasah agar relevan dengan tuntutan zaman?
  2. Bagaimana implementasi strategi pengembangan madrasah dalam konteks sistem pendidikan nasional?
  3. Faktor apa saja yang mendukung dan menghambat pengembangan madrasah di Indonesia?

1.3. Tujuan Penulisan

Tujuan penulisan makalah ini adalah:

  • Menjelaskan konsep pengembangan madrasah dalam perspektif pendidikan Islam dan pendidikan nasional.
  • Menguraikan strategi-strategi yang relevan untuk meningkatkan mutu madrasah.
  • Memberikan rekomendasi implementasi strategi pengembangan madrasah bagi pengelola, pemerintah, dan masyarakat.

1.4. Manfaat Penulisan

Makalah ini diharapkan memberikan manfaat sebagai berikut:

  • Manfaat Teoritis: Menambah khazanah ilmu pengetahuan dalam bidang pendidikan Islam, khususnya terkait pengembangan madrasah.
  • Manfaat Praktis: Menjadi acuan bagi pengelola madrasah, guru, dan pemangku kebijakan dalam merancang program pengembangan madrasah yang efektif dan berkelanjutan.

 

2. Landasan Teory 

2.1 Pengertian Madrasah

Madrasah adalah lembaga pendidikan formal berciri khas Islam yang mengintegrasikan ilmu agama dan ilmu umum. Secara historis, madrasah di Indonesia lahir dari tradisi pesantren yang kemudian mengalami modernisasi. Pada awal abad ke-20, madrasah mulai berkembang sebagai lembaga pendidikan yang lebih terstruktur dengan kurikulum, jenjang, dan sistem administrasi yang jelas.

Menurut Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003, madrasah diakui sebagai bagian dari sistem pendidikan nasional. Hal ini menegaskan bahwa madrasah memiliki kedudukan yang sama dengan sekolah umum, meskipun memiliki kekhasan dalam kurikulum yang menekankan pada pendidikan agama Islam.

Madrasah berfungsi tidak hanya sebagai tempat belajar ilmu agama, tetapi juga sebagai lembaga yang menyiapkan peserta didik untuk menghadapi tantangan kehidupan modern. Dengan demikian, madrasah memiliki peran ganda: melestarikan nilai-nilai Islam sekaligus mengembangkan ilmu pengetahuan dan keterampilan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.

2.2 Konsep Pengembangan Lembaga Pendidikan

Pengembangan lembaga pendidikan adalah proses sistematis untuk meningkatkan kualitas, relevansi, dan daya saing suatu institusi. Dalam konteks madrasah, pengembangan mencakup berbagai aspek: kurikulum, sumber daya manusia, sarana prasarana, manajemen, serta hubungan dengan masyarakat.

Teori manajemen pendidikan menekankan pentingnya tiga tahapan utama:

  1. Perencanaan: Menentukan visi, misi, tujuan, serta strategi pengembangan madrasah.
  2. Pelaksanaan: Mengimplementasikan program-program yang telah direncanakan, termasuk pembelajaran, pelatihan guru, dan pembangunan sarana prasarana.
  3. Evaluasi: Melakukan monitoring dan penilaian terhadap pencapaian tujuan, serta melakukan perbaikan berkelanjutan.

Selain itu, konsep mutu pendidikan juga menjadi landasan penting. Mutu pendidikan madrasah tidak hanya diukur dari hasil akademik, tetapi juga dari aspek karakter, akhlak, dan keterampilan hidup. Oleh karena itu, pengembangan madrasah harus berorientasi pada mutu holistik yang mencakup aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik.

2.3 Peran Madrasah dalam Pembentukan Karakter Bangsa

Madrasah memiliki peran strategis dalam pembentukan karakter bangsa. Pendidikan di madrasah menekankan pada nilai-nilai keislaman seperti kejujuran, disiplin, tanggung jawab, dan kepedulian sosial. Nilai-nilai ini sangat relevan dengan upaya membangun bangsa yang berintegritas dan berdaya saing.

Dalam konteks pendidikan karakter, madrasah memiliki keunggulan karena kurikulumnya memadukan pendidikan agama dengan pendidikan umum. Peserta didik tidak hanya diajarkan ilmu pengetahuan, tetapi juga dibimbing untuk menginternalisasi nilai-nilai moral dan spiritual. Dengan demikian, madrasah berkontribusi dalam mencetak generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga berakhlak mulia.

Peran madrasah dalam pembentukan karakter bangsa semakin penting di era globalisasi. Ketika arus informasi dan budaya global masuk tanpa batas, madrasah menjadi benteng moral yang menjaga identitas keislaman dan kebangsaan.

2.4 Strategi Manajemen Pendidikan Islam

Manajemen pendidikan Islam memiliki karakteristik yang khas, yaitu berorientasi pada nilai-nilai Islam dan berlandaskan pada prinsip-prinsip syariah. Strategi manajemen pendidikan Islam dalam pengembangan madrasah meliputi:

  1. Perencanaan
    • Menyusun visi dan misi madrasah yang berorientasi pada pembentukan insan kamil.
    • Merancang kurikulum yang integratif antara ilmu agama dan ilmu umum.
    • Menetapkan tujuan jangka pendek, menengah, dan panjang.
  2. Pelaksanaan
    • Mengimplementasikan kurikulum secara konsisten.
    • Melakukan pembelajaran yang aktif, kreatif, dan menyenangkan.
    • Memberikan pelatihan berkelanjutan bagi guru dan tenaga kependidikan.
  3. Evaluasi
    • Melakukan penilaian terhadap hasil belajar peserta didik.
    • Mengevaluasi kinerja guru dan tenaga kependidikan.
    • Melakukan perbaikan berkelanjutan berdasarkan hasil evaluasi.

Strategi manajemen pendidikan Islam juga menekankan pada kepemimpinan yang visioner dan partisipatif. Kepala madrasah harus mampu menjadi teladan, menggerakkan seluruh komponen madrasah, serta membangun budaya mutu yang berkelanjutan

 

3. Kondisi Aktual Madrasah Saat Ini 

3.1 Profil Madrasah

Madrasah di Indonesia merupakan bagian integral dari sistem pendidikan nasional yang berada di bawah naungan Kementerian Agama. Jenjang pendidikan madrasah terdiri dari Madrasah Ibtidaiyah (MI) setara SD, Madrasah Tsanawiyah (MTs) setara SMP, dan Madrasah Aliyah (MA) setara SMA. Selain itu, terdapat pula Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK) yang berorientasi pada pendidikan vokasional.

Jumlah madrasah di Indonesia sangat besar dan tersebar di seluruh wilayah, baik di perkotaan maupun pedesaan. Data Kementerian Agama menunjukkan bahwa lebih dari separuh lembaga pendidikan Islam formal di Indonesia berbentuk madrasah. Hal ini menegaskan bahwa madrasah memiliki peran penting dalam mencerdaskan kehidupan bangsa, khususnya bagi masyarakat Muslim yang merupakan mayoritas penduduk Indonesia.

Madrasah memiliki karakteristik unik dibandingkan sekolah umum. Selain mengajarkan mata pelajaran umum seperti matematika, sains, dan bahasa, madrasah juga memberikan porsi besar pada mata pelajaran agama Islam, seperti Al-Qur’an Hadis, Fiqih, Akidah Akhlak, dan Sejarah Kebudayaan Islam. Dengan demikian, madrasah berfungsi sebagai lembaga pendidikan yang menyeimbangkan aspek intelektual dan spiritual.

3.2 Tantangan Madrasah

Meskipun memiliki peran strategis, madrasah masih menghadapi berbagai tantangan yang cukup kompleks. Tantangan tersebut antara lain:

  1. Kualitas Guru Banyak guru madrasah yang belum memiliki kualifikasi akademik sesuai standar. Sebagian guru belum tersertifikasi, sehingga kompetensi pedagogik dan profesional mereka masih perlu ditingkatkan.
  2. Kurikulum Kurikulum madrasah sering kali dianggap kurang adaptif terhadap perkembangan zaman. Integrasi antara ilmu agama dan ilmu umum belum sepenuhnya optimal, sehingga lulusan madrasah kadang kalah bersaing dengan lulusan sekolah umum.
  3. Sarana dan Prasarana Banyak madrasah, terutama di daerah pedesaan, masih menghadapi keterbatasan sarana prasarana. Gedung yang kurang layak, laboratorium yang minim, serta akses internet yang terbatas menjadi hambatan dalam proses pembelajaran.
  4. Pendanaan Pendanaan madrasah sebagian besar bergantung pada bantuan pemerintah. Madrasah swasta sering kali menghadapi kesulitan finansial karena bergantung pada iuran siswa yang jumlahnya terbatas.
  5. Daya Saing Dalam konteks global, madrasah dituntut untuk menghasilkan lulusan yang kompetitif. Namun, keterbatasan sumber daya membuat daya saing lulusan madrasah masih perlu ditingkatkan.

3.3 Peluang Pengembangan Madrasah

Di balik tantangan tersebut, madrasah juga memiliki peluang besar untuk berkembang. Beberapa peluang yang dapat dimanfaatkan antara lain:

  1. Dukungan Pemerintah Pemerintah melalui Kementerian Agama terus memberikan perhatian terhadap pengembangan madrasah. Program Bantuan Operasional Sekolah (BOS), sertifikasi guru, serta pembangunan sarana prasarana menjadi bentuk nyata dukungan pemerintah.
  2. Digitalisasi Pendidikan Perkembangan teknologi digital membuka peluang besar bagi madrasah untuk melakukan inovasi pembelajaran. Pemanfaatan e-learning, aplikasi pendidikan, dan media sosial dapat meningkatkan kualitas pembelajaran di madrasah.
  3. Kolaborasi dengan Masyarakat dan Dunia Usaha Madrasah dapat menjalin kerja sama dengan masyarakat, organisasi sosial, dan dunia usaha untuk memperkuat pendanaan dan program pendidikan. Kolaborasi ini dapat berupa beasiswa, pelatihan, maupun pembangunan fasilitas.
  4. Tren Pendidikan Karakter Pendidikan karakter menjadi fokus utama dalam sistem pendidikan nasional. Madrasah memiliki keunggulan dalam hal ini karena kurikulumnya menekankan pada pembentukan akhlak mulia.
  5.  

3.4 Analisis SWOT Madrasah

Untuk memahami kondisi aktual madrasah secara komprehensif, dapat digunakan analisis SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, Threats):

  • Strengths (Kekuatan): Kurikulum berbasis agama, dukungan masyarakat Muslim, peran strategis dalam pendidikan karakter.
  • Weaknesses (Kelemahan): Kualitas guru belum merata, sarana prasarana terbatas, pendanaan minim.
  • Opportunities (Peluang): Dukungan pemerintah, digitalisasi pendidikan, tren pendidikan karakter.
  • Threats (Ancaman): Persaingan dengan sekolah umum, arus globalisasi yang membawa budaya asing, keterbatasan sumber daya

 

4. Strategi Pengembangan Madrasah 

4.1 Penguatan Kurikulum

Kurikulum madrasah harus mampu menjawab tantangan zaman. Integrasi antara ilmu agama dan ilmu umum menjadi kunci utama. Kurikulum yang hanya menekankan pada aspek kognitif tanpa memperhatikan aspek afektif dan psikomotorik akan menghasilkan lulusan yang kurang seimbang. Oleh karena itu, penguatan kurikulum madrasah harus dilakukan melalui:

  • Integrasi ilmu agama dan umum: Peserta didik tidak hanya memahami ajaran Islam, tetapi juga menguasai ilmu pengetahuan modern. Misalnya, pembelajaran fiqih dikaitkan dengan isu lingkungan, ekonomi, dan teknologi.
  • Penyesuaian dengan kebutuhan abad 21: Kurikulum harus mengembangkan keterampilan berpikir kritis, kreatif, komunikatif, dan kolaboratif. Hal ini dapat dilakukan dengan menerapkan model pembelajaran berbasis proyek (project-based learning) dan pembelajaran berbasis masalah (problem-based learning).
  • Penguatan literasi digital: Peserta didik perlu dibekali kemampuan menggunakan teknologi informasi secara bijak.

4.2 Peningkatan Kualitas Guru

Guru merupakan ujung tombak pendidikan. Kualitas guru sangat menentukan mutu madrasah. Strategi peningkatan kualitas guru meliputi:

  • Pelatihan berkelanjutan: Guru madrasah perlu mengikuti pelatihan pedagogik, teknologi pembelajaran, dan pengembangan kurikulum.
  • Sertifikasi dan profesionalisme: Sertifikasi guru menjadi salah satu indikator profesionalisme. Guru yang tersertifikasi diharapkan memiliki kompetensi pedagogik, profesional, sosial, dan kepribadian.
  • Penguasaan teknologi: Guru harus mampu memanfaatkan teknologi dalam pembelajaran, seperti penggunaan aplikasi e-learning, media interaktif, dan platform digital.
  • Pengembangan budaya riset: Guru madrasah perlu didorong untuk melakukan penelitian tindakan kelas (PTK) guna meningkatkan kualitas pembelajaran.

4.3 Pengembangan Sarana dan Prasarana

Sarana prasarana merupakan faktor penting dalam mendukung proses pembelajaran. Banyak madrasah yang masih menghadapi keterbatasan fasilitas. Oleh karena itu, strategi pengembangan sarana prasarana meliputi:

  • Infrastruktur digital: Penyediaan laboratorium komputer, akses internet, dan perangkat multimedia.
  • Lingkungan belajar kondusif: Gedung madrasah harus layak, ruang kelas nyaman, serta tersedia fasilitas pendukung seperti perpustakaan, laboratorium sains, dan ruang ibadah.
  • Pemanfaatan teknologi ramah lingkungan: Madrasah dapat mengembangkan konsep green school dengan memanfaatkan energi terbarukan dan menjaga kebersihan lingkungan.

4.4 Manajemen dan Kepemimpinan

Manajemen madrasah harus berorientasi pada mutu. Kepemimpinan kepala madrasah menjadi faktor penentu keberhasilan pengembangan. Strategi manajemen dan kepemimpinan meliputi:

  • Kepemimpinan visioner: Kepala madrasah harus memiliki visi yang jelas dan mampu menggerakkan seluruh komponen madrasah untuk mencapai tujuan.
  • Tata kelola berbasis mutu: Madrasah perlu menerapkan sistem manajemen mutu, seperti ISO atau model penjaminan mutu internal.
  • Transparansi dan akuntabilitas: Pengelolaan dana dan program harus dilakukan secara transparan agar mendapat kepercayaan dari masyarakat.
  • Budaya organisasi yang positif: Membangun budaya kerja sama, disiplin, dan inovasi di lingkungan madrasah.

4.5 Kolaborasi dengan Stakeholder

Madrasah tidak dapat berkembang tanpa dukungan dari berbagai pihak. Kolaborasi dengan stakeholder menjadi strategi penting.

  • Pemerintah: Memberikan regulasi, pendanaan, dan program pengembangan.
  • Masyarakat: Mendukung madrasah melalui partisipasi aktif, baik dalam bentuk moral maupun material.
  • Dunia usaha: Memberikan dukungan melalui program Corporate Social Responsibility (CSR), beasiswa, dan pelatihan keterampilan.
  • Perguruan tinggi: Menjalin kerja sama dalam penelitian, pengembangan kurikulum, dan pelatihan guru.

4.6 Inovasi Pembelajaran

Inovasi pembelajaran menjadi strategi penting untuk meningkatkan kualitas madrasah. Beberapa bentuk inovasi pembelajaran antara lain:

  • Pemanfaatan teknologi: Menggunakan e-learning, blended learning, dan aplikasi pendidikan.
  • Model pembelajaran aktif: Seperti project-based learning, problem-based learning, dan inquiry learning.
  • Pembelajaran berbasis karakter: Mengintegrasikan nilai-nilai Islam dalam setiap mata pelajaran.
  • Pembelajaran kontekstual: Mengaitkan materi dengan kehidupan nyata agar peserta didik lebih mudah memahami.

4.7 Analisis Strategi

Jika dianalisis secara komprehensif, strategi pengembangan madrasah harus dilakukan secara holistik. Tidak cukup hanya memperbaiki kurikulum atau meningkatkan kualitas guru, tetapi harus mencakup seluruh aspek. Strategi ini juga harus berkelanjutan, bukan sekadar program jangka pendek

 

 5. Best Practice madrasah Unggul

5.1 Madrasah Aliyah Negeri Insan Cendekia (MAN IC)

Salah satu contoh madrasah yang berhasil melakukan inovasi dan pengembangan adalah Madrasah Aliyah Negeri Insan Cendekia (MAN IC). Madrasah ini didirikan oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) pada tahun 1996, kemudian pengelolaannya diserahkan kepada Kementerian Agama. MAN IC memiliki visi untuk menghasilkan lulusan yang unggul dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, sekaligus berakhlak mulia.

Keberhasilan MAN IC dapat dilihat dari berbagai aspek:

  • Kurikulum integratif: MAN IC menggabungkan kurikulum agama dan sains secara seimbang. Peserta didik tidak hanya belajar Al-Qur’an, Hadis, dan Fiqih, tetapi juga mendalami matematika, fisika, biologi, dan teknologi informasi.
  • Kualitas guru: Guru di MAN IC dipilih melalui seleksi ketat dan diberikan pelatihan berkelanjutan. Hal ini memastikan bahwa proses pembelajaran berjalan dengan baik.
  • Sarana prasarana modern: MAN IC dilengkapi dengan laboratorium sains, perpustakaan digital, dan fasilitas teknologi yang mendukung pembelajaran abad 21.
  • Manajemen berbasis mutu: Pengelolaan madrasah dilakukan secara profesional dengan sistem penjaminan mutu yang jelas.
  • Prestasi siswa: Lulusan MAN IC banyak yang diterima di perguruan tinggi ternama, baik di dalam maupun luar negeri.

5.2 Madrasah Aliyah Negeri Program Khusus (MAN PK)

Selain MAN IC, contoh lain adalah Madrasah Aliyah Negeri Program Khusus (MAN PK) yang tersebar di beberapa daerah. MAN PK memiliki program unggulan dalam bidang sains, bahasa, dan teknologi.

  • Program unggulan: MAN PK mengembangkan kelas khusus untuk bidang sains dan bahasa asing.
  • Kolaborasi dengan perguruan tinggi: MAN PK menjalin kerja sama dengan universitas untuk pengembangan kurikulum dan penelitian.
  • Pembinaan karakter: Selain unggul dalam akademik, MAN PK menekankan pada pembinaan akhlak dan spiritualitas siswa.

5.3 Faktor Keberhasilan

Dari studi kasus di atas, terdapat beberapa faktor keberhasilan pengembangan madrasah:

  1. Kepemimpinan visioner: Kepala madrasah memiliki visi yang jelas dan mampu menggerakkan seluruh komponen madrasah.
  2. Kualitas guru: Guru yang kompeten dan profesional menjadi kunci keberhasilan pembelajaran.
  3. Sarana prasarana memadai: Fasilitas modern mendukung proses pembelajaran yang efektif.
  4. Kurikulum integratif: Kurikulum yang menggabungkan ilmu agama dan ilmu umum menjadikan madrasah relevan dengan kebutuhan zaman.
  5. Kolaborasi dengan stakeholder: Dukungan pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha memperkuat pengembangan madrasah.
  6. Budaya inovasi: Madrasah yang berhasil selalu melakukan inovasi dalam pembelajaran dan manajemen.

5.4 Pembelajaran yang Bisa Ditiru

Madrasah lain dapat meniru praktik baik dari MAN IC dan MAN PK dengan cara:

  • Menyusun kurikulum integratif yang relevan dengan kebutuhan abad 21.
  • Meningkatkan kualitas guru melalui pelatihan dan sertifikasi.
  • Mengembangkan sarana prasarana berbasis teknologi.
  • Menerapkan manajemen berbasis mutu dan transparansi.
  • Menjalin kerja sama dengan perguruan tinggi, masyarakat, dan dunia usaha.
  • Membangun budaya inovasi dan pembelajaran aktif

 

 6. Simpulan dan Rekomendasi

6.1 Kesimpulan

Berdasarkan uraian dari bab-bab sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa madrasah memiliki peran strategis dalam sistem pendidikan nasional. Madrasah tidak hanya berfungsi sebagai lembaga pendidikan agama, tetapi juga sebagai institusi yang menyiapkan generasi muda menghadapi tantangan global.

Strategi pengembangan madrasah harus dilakukan secara komprehensif dan berkelanjutan. Beberapa strategi utama yang dapat diterapkan antara lain:

  1. Penguatan kurikulum dengan mengintegrasikan ilmu agama dan ilmu umum serta menyesuaikan dengan kebutuhan abad 21.
  2. Peningkatan kualitas guru melalui pelatihan berkelanjutan, sertifikasi, dan penguasaan teknologi.
  3. Pengembangan sarana prasarana yang mendukung pembelajaran modern, termasuk infrastruktur digital.
  4. Manajemen dan kepemimpinan visioner yang mampu membangun budaya mutu dan inovasi.
  5. Kolaborasi dengan stakeholder seperti pemerintah, masyarakat, dunia usaha, dan perguruan tinggi.
  6. Inovasi pembelajaran dengan memanfaatkan teknologi dan model pembelajaran aktif.

Madrasah yang mampu menerapkan strategi tersebut akan menjadi lembaga pendidikan yang unggul, relevan, dan berdaya saing

 

6.2 Rekomendasi

Untuk mewujudkan pengembangan madrasah yang optimal, diperlukan rekomendasi kebijakan dan langkah implementasi sebagai berikut:

  1. Bagi Pemerintah
    • Meningkatkan alokasi anggaran untuk pengembangan madrasah, terutama dalam hal sarana prasarana dan pelatihan guru.
    • Menyusun regulasi yang mendukung integrasi kurikulum agama dan umum.
    • Memperkuat sistem penjaminan mutu madrasah melalui evaluasi berkala.

 

  1. Bagi Pengelola Madrasah
    • Menyusun visi dan misi yang jelas serta berorientasi pada mutu.
    • Menerapkan manajemen berbasis mutu dan transparansi.
    • Mendorong guru untuk terus meningkatkan kompetensi melalui pelatihan dan penelitian.
    • Mengembangkan budaya inovasi dalam pembelajaran.

 

  1. Bagi Masyarakat
    • Memberikan dukungan moral dan material kepada madrasah.
    • Berpartisipasi aktif dalam kegiatan madrasah.
    • Menjadi mitra dalam pengawasan dan pengembangan madrasah.

 

  1. Bagi Dunia Usaha dan Perguruan Tinggi
    • Menjalin kerja sama dengan madrasah dalam bentuk beasiswa, pelatihan, dan penelitian.
    • Memberikan dukungan melalui program CSR untuk pembangunan sarana prasarana.
    • Membantu madrasah dalam pengembangan kurikulum yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja.

 

6.3 Penutup

Madrasah adalah aset bangsa yang harus terus dikembangkan. Dengan strategi yang tepat, madrasah dapat menjadi lembaga pendidikan yang tidak hanya melahirkan generasi berakhlak mulia, tetapi juga generasi yang cerdas, kreatif, dan kompetitif. Pengembangan madrasah bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga tanggung jawab bersama seluruh komponen bangsa.

Oleh karena itu, sinergi antara pemerintah, pengelola madrasah, guru, masyarakat, dunia usaha, dan perguruan tinggi sangat diperlukan. Dengan sinergi tersebut, madrasah akan mampu menghadapi tantangan global dan berkontribusi dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.

,-U-ma

 

 

 

 

Minggu, 15 Desember 2024

DEEP LEARNING

 

JOYFUL LEARNING

Oleh : Ummi Masruroh, M.Pd.


 

Idiom yang menyatakan bahwa ganti Menteri ganti  kurikulum sepertinya tidal terlalu salah, setidaknya selalu saja ada yang diubah oleh pak Menteri Pendidikan yang baru. Terlepas dari motivasinya, apakah sekedar biar nampak berbeda atau benar-benar karena  perubahan tersebut sangat urgen untuk dilakukan dengan sebelumnya  melalui kajian-kajian yang sudah dilakukan ? Pada kenyataannya Menteri Pendidikan yang baru dalam kabinet merah putih ini cukup menarik ide-idenya. Diantaranya adalah tawaran penggunaan konsep pembelajaran  Deep Learning Ful-Ful yaitu konsep pembelajaran yang menggabungkan tiga elemen, yaitu Mindful Learning, Meaningful Learning, dan Joyful Learning. Konsep yang bertujuan untuk menciptakan lingkungan belajar yang tidak hanya berfokus pada pengetahuan, tetapi juga memberikan pengalaman

 

Joyful learning merupakan salah satu dari model pembelajaran yang dinarasikan oleh Bapak Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah yang baru Prof. DR. Abdul Mukti, M.Ed untuk diterapkan di sekolah-sekolah di Indonesia. Pak Menteri sangat berharap pembelajaran di sekolah jangan menjadi momok bagi siswa, melainkan justru menjadikan siswa selalu rindu untuk belajar dan datang ke sekolah. Dengan proses belajar mengajar yang menyenangkan dan tidak tegang, menjadikan  interaksi antara pendidik dan peserta didik lebih dekat dan menyenangkan, serta terciptanya lingkungan belajar yang menginspirasi. 

Beberapa prinsip dan karakteristik model pembelajaran joyful learning, yaitu :

  • Siswa diposisikan sebagai subjek pembelajaran, bukan sekadar objek, misal dengan membuat permainan-permainan berbasis tim.
  • Pola hubungan yang baik diciptakan  antara guru dan siswa , hubungan saling menghormati dan menyayangi, misalnya dengan interaksi pelukan, tos dan lain sebagainya saat masuk kelas  bagi siswa TK, atau kegiatan-kegiatan lain untuk siswa pada tingkatan lebih tinggi.
  • Membuat siswa merasa terlibat dalam proses pembelajaran, misalkan dengan mengajak siswa untuk membuat model atau ilustrasi visual dari konsep yang dipelajari 
  • Mengurangi ketegangan dalam proses pembelajaran sehingga siswa tertarik mengikuti pembelajaran tanpa ada rasa beban atau tertekan, dengan menggunakan media audio visual sebagai media, atau belajar sambil diiringi music, dls,
  • Memotivasi siswa untuk semangat belajar dengan menggunakan gamifikasi, seperti memberikan poin, tantangan, atau penghargaan untuk setiap pencapaian siswa 
  • Membantu siswa cepat menangkap informasi dan tersimpan pada memori jangka Panjang, dengan menggunakan pertanyaan untuk berpikir kritis dan analitis.

Kegiatan belajar mengajar yang dilaksanakan secara tatap muka tentu  mengimplementasikan model pembelajaran yang  merupakan runtutan langkah yang dilakukan guru dalam melaksanakan pembelajaran mulai dari awal hingga akhir kegiatan. Menurut Permendikbud RI No. 103 Tahun 2014 menyebutkan bahwa pembelajaran dilaksanakan berbasis aktivitas yang interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, dan memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif dalam kegiatan pembelajaran. Berdasarkan peraturan tersebut, maka seorang guru perlu menerapkan model pembelajaran yang bervariatif dan inovatif agar bisa menciptakan suasana kelas yang kondusif dan menyenangkan.

Namun, apakah sekolah di Indonesia sudah menerapkan model pembelajaran inovatif dan menyenangkan dalam pembelajarannya ?

Dua model pembelajaran yang sampai saat masih banyak digunakan oleh guru di sekolah-sekolah di Indonesia adalah  pembelajaran langsung (direct learning) dan metode diskusi kelompok. Padahal kedua model pembelajaran ini belum termasuk ke dalam pembelajaran yang menyenangkan, menantang, dan memotivasi siswa untuk berpartisipasi aktif dalam pembelajaran. Oleh karenanya, wacana tentang penggunaan model pembelajaran Joyfull Learning oleh Menteri Pendidikan, adalah merupakan suatu harapan baru,sebagai salah  satu solusi untuk  menciptakan kegiatan belajar mengajar secara menyenangkan, relaks (tidak tegang), diselingi humor, yel-yel, ice breaking, maupun ada brain gym (senam otak). Tujuan dari model pembelajaran joyful learning adalah meminimalisir ketegangan saat proses pembelajaran sehingga siswa tertarik mengikuti pembelajaran. Pembelajaran joyful learning juga dapat memotivasi siswa untuk semangat belajar karena siswa tidak merasa tertekan atau takut terhadap gurunya.

Namun demikian, narasi maupun konsep sebagus apapun kalau tidak dibarengi dengan upaya riil mengadakan pelatihan-pelatihan bagi  guru, agar guru mampu mempraktekkan untuk siswa mereka di sekolah – sekolah mereka, tentunya tidak ada gunanya. Guru tetap akan kembali kepada gaya dan model pembelajaran semula dengan ceramah atau berkelompok sebagai satu-satunya model pembelajaran yang telah dikuasainya.

Joyful learning tidak hanya bisa diterapkan pada pendidikan dasar, namun bisa juga diterapkan untuk pendidikan menengah dan pendidikan tinggi. Dari siswa SD hingga mahasiswa diharapkan memiliki antuasias yang tinggi  dalam belajar dengan menggunakan model pembelajaran  joyful learning. Hal ini berkaitan dengan hormon “bahagia” dopamin, serotonin, endorfin manusia yang berkaitan dengan sensasi menyenangkan. Hormon “bahagia” akan membantu siswa untuk cepat menangkap informasi dan antusias mengikuti pembelajaran sehingga akan tersimpan pada memori jangka panjang siswa. Sebaliknya, jika suasana kelas menegangkan dan menakutkan, maka siswa akan kesulitan  menangkap informasi dan kehilangan semangat untuk mengikuti pembelajaran.

Tahapan pembelajaran joyfull learning

Langkah-langkah pada pada pembelajaran Joyful learning, antara lain adalah  tahap persiapan, tahap penyampaian, tahap pelatihan, dan tahap penutup.

Tahap Persiapan, pada tahap persiapan ini pendidik dapat menstimulus siswa agar memiliki rasa ingin tahu dan minat terhadap pembelajaran. Guru dapat memberikan apersepsi yang berkaitan dengan kondisi nyata atau berdasar pengalaman siswa.

Tahap Penyampaian, pada tahap ini guru dapat menyampaikan materi ajar dengan menerapkan metode, media, dan model pembelajaran yang bervariatif. Siswa berpartisipasi aktif dan penuh pada tahap ini, misal dengan presentasi, diskusi kelompok, tanya jawab interaktif, dan sebagainya. Guru menyampaikan materi dengan menyenangkan, diselingi humor, melakukan tanya jawab interaktif, memberikan yel-yel/ice breaking/brain gym untuk mengecek konsentrasi siswa.

Tahap Pelatihan, siswa mempraktikkan keterampilan yang diajarkan guru dan mendapatkan umpan balik dari pembelajaran. Guru dapat memberikan kuis atau game edukasi untuk tindak lanjut hasil pembelajaran. Hal ini bertujuan untuk mengecek pemahaman siswa terhadap materi ajar yang disampaikan guru. Pada tahap penutup, guru memberikan kesimpulan dan tugas pengembangan materi ajar. Guru juga dapat menanyakan perasaan siswa terkait proses pembelajaran yang disampaikan.

Tips dalam penerapan joyful learning

Dalam pelaksanaan  joyful learning, untuk  menciptakan suasana belajar yang rileks dan menyenangkan, guru hendaknya menggunakan metode pembelajaran yang bervariatif, untuk meningkatkan aktivitas serta kreativitas siswa. Guru perlu membangun komunikasi yang aktif dengan siswa, menguasai kelas dengan kondusif, dan  memahami berbagai jenis ice breaking/brain gym. Guru juga harus memiliki kreativitas yang tinggi agar pelaksanaan pembelajaran dapat menyenangkan, menantang, dan memotivasi siswa untuk berpartisipasi aktif dalam pembelajaran. U-ma

 

Kamis, 28 Desember 2023

Pembelajaran Matematika Realistik

 

 Pembelajaran Matematika Realistik




Freudenthal, Sekitar tahun 1971,  memperkenalkan suatu model baru dalam pembelajaran matematika yang akhirnya dikenal dengan nama Realistic Mathematics Education (RME), makna Indonesianya adalah pendidikan matematika realistik dan secara operasional disebut sebagai Pembelajaran Matematika Realistik (PMR).

PMR awalnya dikembangkan di negeri Belanda. Pendekatan ini didasarkan pada konsep Freudenthal yang mengatakan bahwa matematika merupakan aktivitas manusia (human activities), ide utamanya adalah siswa harus diberi kesempatan untuk menemukan kembali ide dan konsep matematika dengan atau tanpa bimbingan orang dewasa. Upaya ini dilakukan melalui penjelajahan berbagai situasi dan persoalan-persoalan "realistik" yakni yang berkaitan dengan realitas atau situasi yang dapat dibayangkan siswa.

Soedjadi (2001:2) mengemukakan bahwa pembelajaran matematika realistik pada dasarnya adalah pemanfaatan realitas dan lingkungan yang dipahami peserta didik untuk memperlancar proses pembelajaran matematika sehingga dapat mencapai tujuan pendidikan matematika secara lebih baik daripada masa yang lalu. 

Dalam PMR siswa belajar mematematisasi masalah-masalah kontekstual. Proses ini disebut matematisasi horisontal. Pada mulanya siswa akan memecahkan masalah secara informal (menggunakan bahasa mereka sendiri). Tetapi setelah beberapa waktu, setelah siswa familiar dengan proses-proses pemecahan yang serupa (melalui simplifikasi dan formalisasi), mereka akan menggunakan bahasa yang lebih formal, dan diakhiri proses siswa akan menemukan suatu algoritma. Proses yang dilalui siswa sampai mereka menemukan algoritma disebut matematisasi vertikal.  

Pembelajaran matematika dengan pendekatan realistik memanfatkan masalah kontekstual  yang mudah difahami siswa kemudian siswa diberi kesempatan seluas-luasnya untuk menyelesaikan masalah yang diberikan secara mandiri sesuai dengan pengetahuan awal yang dimilikinya. Kegiatan ini mengandung arti bahwa siswa diberi kesempatan untuk mendeskripsikan, menginterpretasi dan mencari strategi yang sesuai. Dalam hal ini keaktifan siswa lebih diutamakan, guru hanya berperan sebagai fasilitator. Siswa bebas mengeluarkan idenya, mengkomunikasikan ide-idenya satu sama lain. Guru membantu siswa (secara terbatas) untuk membandingkan ide-ide itu dan membimbing mereka mengambil keputusan tentang ide mana yang paling tepat, efisien dan mudah dipahami oleh mereka. Dalam kaitannya dengan matematika sebagai aktivitas manusia maka siswa telah diberi kesempatan seluas-luasnya untuk menemukan kembali ide dan konsep matematika secara mandiri sebagai akibat dari pengalaman siswa dalam berinteraksi dengan masalah kontekstual. Setelah pembentukan  dan menemukan konsep-konsep matematika, siswa menggunakannya untuk menyelesaikan masalah kontekstual sebagai aplikasi untuk memperkuat pemahaman konsep pada dunia nyata

    Teori Piaget tentang perkembangan intelektual ini menggambarkan suatu proses dimana anak secara aktif membangun pengetahuan dan pemahamannya dari hasil pengalaman dan interaksi dengan lingkungannya dengan terus-menerus melakukan asimilasi dan akomodasi terhadap informasi baru yang diterima.. Teori Piaget sangat relevan dengan PMR. Karena dalam PMR juga memfokuskan pada proses berpikir siswa, bukan pada hasil. Di samping itu PMR mengutamakan peran siswa berinisiatif untuk menemukan jawaban dari masalah kontekstual yang diberikan oleh guru dengan caranya sendiri dan siswa didorong untuk terlibat aktif dalam kegiatan pembelajaran. Dengan demikian, langkah-langkah pembelajaran matematika realistik terkait dengan teori Piaget, yaitu pada:

a)     Langkah ke-1 (memahami masalah kontekstual), proses asimilasi dan akomodasi berlangsung dalam pikiran siswa ketika memahami masalah kontekstual yang diberikan.

b)     Langkah ke-2 (menyelesaikan masalah kontekstual), siswa secara aktif membangun pemahamannya dari hasil pengalaman dan interaksi dengan lingkungannya. Di samping itu proses asimilasi dan akomodasi masih tetap berlangsung dalam menyelesaikan masalah.

c)     Langkah ke-4 (menyimpulkan), mengorganisasi proses-proses psikologi menjadi sistem-sistem yang teratur dan berhubungan (struktur).

Ausubel (dalam Hudojo, 1988: 56), mengemukakan bahwa belajar dikatakan bermakna bila informasi yang dipelajari siswa disusun sesuai dengan struktur kognitif siswa. Dengan demikian siswa dapat mengaitkan pengetahuan barunya dengan struktur kognitif yang ia miliki. Dengan belajar bermakna siswa akan dapat mengingat lebih lama tentang apa yang ia pelajari. Di samping itu proses transfer belajar menjadi lebih mudah dicapai.

Adanya struktur kognitif dalam mental siswa merupakan dasar untuk mengaitkan struktur kognitif itu dengan informasi baru. Banyaknya pengetahuan yang dapat dipelajari siswa tergantung pada banyaknya informasi yang sudah ia ketahui. Menurut Ausubel, menghafal berlawanan dengan belajar bermakna. Menghafal pada hakekatnya mendapatkan informasi yang terisolasi sedemikian rupa sehingga siswa tidak dapat mengaitkan informasi yang diperoleh ke dalam struktur kognitifnya. Oleh karena itu, pembelajaran hendaklah lebih mengutamakan pengertian dari pada hafalan.

 Di samping itu keterkaitan antara informasi yang akan dipelajari siswa dengan struktur kognitif yang telah dimiliki siswa dalam PMR nampak pada masalah-masalah kontekstual yang diberikan disesuaikan dengan lingkungan siswa, sebagai hal-hal yang nyata dan dapat diamati atau sekurang-kurangnya dapat dibayangkan oleh siswa. 

 



                  

Prinsip Pembelajaran Matematika Realistik

Ada tiga prinsip kunci dalam mendesain pembelajaran matematika realistik, yaitu: (a) guided reinvention and progressive mathematizing, (b) didactical phenomenology dan (c) self-developed models. Ketiga prinsip tersebut dapat dijelaskan secara singkat sebagai berikut (Gravemeijer (1994:90) ) :

a.   Penemuan kembali secara terbimbing dan proses matematisasi secara progresif (guided reinvention and  progressive mathematizing)

Berdasarkan prinsip reinvention, para siswa semestinya diberi kesempatan untuk mengalami proses yang sama dengan proses saat konsep-konsep matematika ditemukan. Sejarah matematika dapat dijadikan sumber inspirasi dalam merancang materi pelajaran. Selain itu prinsip reinvention dapat pula dikembangkan berdasarkan prosedur penyelesaian informal. Dalam hal ini strategi informal dapat difahami untuk mengantisipasi prosedur penyelesaian formal. Untuk keperluan tersebut, maka perlu dirumuskan masalah kontekstual yang dapat mengundang beragam prosedur penyelesaian yang mengindikasikan rute belajar melalui proses matematisasi progresif (Gravemeijer, 1994:90)

b.  Fenomena yang bersifat mendidik (didactical phenomenology)

Berdasarkan prinsip ini penentuan situasi yang mengandung penerapan topik matematika didasarkan pada dua pertimbangan, yaitu; (i) untuk mengungkapkan jenis aplikasi yang harus diantisipasi dalam pembelajaran, dan (ii) mempertimbangkan pantas tidaknya konteks itu sebagai hal yang berpengaruh dalam proses matematisasi progresif. Secara historis, matematika dikembangkan dari penyelesaian masalah praktis sehingga dimungkinkan ditemukan masalah yang melahirkan proses perkembangan dalam aplikasi terkini. Selanjutnya dapat dibayangkan bahwa matematika  formal terbentuk melalui proses generalisasi dan formalisasi prosedur-prosedur penyelesaian masalah situasi khusus dan konsep tentang berbagai situasi. Karena itu, tujuan investigasi fenomena ini adalah menemukan situasi-situasi masalah dengan prosedur penyelesaian dapat digeneralisasi dan untuk menemukan prosedur penyelesaian yang dapat dijadikan dasar untuk matematisasi vertikal. (Gravemeijer, 1994:90)

c.  Mengembangkan  sendiri model-model (self developed model)

     Pada prinsip ini dinyatakan bahwa model yang dikembangkan sendiri oleh siswa berperan menjembatani perbedaan antara pengetahuan informal dan matematika formal. Pada mulanya, model ini merupakan model yang sudah dikenal siswa. Melalui proses generalisasi dan formalisasi, model itu menjadi sesuatu yang berdiri sendiri, tidak tergantung pada situasi asalnya. Hal ini sangat mungkin digunakan sebagai model untuk penalaran matematika (Gravemeijer, 1994:91). Lebih lanjut Gravemeijer (1994:102) menyebutkan bahwa siswa belajar dari tahap situasi nyata, tahap pemodelan (referensi), generalisasi dan tahap formal matematika. Soedjadi (2001:4) menggambarkan bahwa urutan pembelajaran tersebut adalah: masalah kontekstual ® model dari masalah kontekstual ® model ke arah formal ® pengetahuan formal.

   Karakteristik Pembelajaran Matematika Realistik

            Tiga prinsip kunci PMR dalam implementasinya melahirkan karakteristik pembelajaran matematika realistik, yaitu: (1) the use of context , (2) the use of models, bridging by vertical instrument, (3) student contribution, (4) interactivity and (5) intertwining (Gravemeijer,1994:114, De Lange, 1987:75). Penjelasan dari kelima karakteristik tersebut, secara singkat sebagai berikut:

a.      Menggunakan masalah kontekstual (the use of context)

Pembelajaran diawali dengan menggunakan masalah kontekstual, tidak dimulai dengan sistem formal. Masalah kontekstual yang diangkat sebagai topik pembelajaran harus merupakan masalah sederhana yang ‘dikenal’ siswa.

b.     Menggunakan model (the use models, bridging  by vertical instruments)

Istilah model berkaitan dengan model situasi dan model matematika yang dikembangkan sendiri oleh siswa sebagai jembatan antara level pemahaman yang satu ke level pemahaman yang lain dengan menggunakan instrumen-instrumen vertikal seperti model-model, skema-skema, diagram-diagram, simbol-simbol dan sebagainya

c.      Menggunakan kontribusi siswa (student contribution)

Kontribusi yang besar pada proses belajar diharapkan datang dari siswa, artinya semua pikiran (konstruksi dan produksi) siswa diperhatikan

d.     Proses pengajaran yang interaktif (interactivity)

Mengoptimalkan proses mengajar-belajar dan terdapat interaksi yang terus-menerus antar siswa dengan siswa, siswa dengan guru dan siswa dengan sarana dan prasarana merupakan hal penting dalam pembelajaran matematika realistik, sedemikian hingga setiap siswa mendapatkan manfaat positif dari interaksi tersebut.

e.      Terintegrasi dengan topik lainnya (intertwining)

Matematika merupakan ilmu yang terstruktur. Oleh karena itu keterkaitan dan keterintegrasian antar topik (unit pelajaran) harus dieksplorasi untuk mendukung terjadinya proses mengajar belajar yang lebih bermakna. U-ma

 


Kamis, 04 Mei 2023

Teori Belajar

 TEORI BELAJAR KONSTRUKTIVISME



Upaya membangun sumber daya manusia ditentukan oleh karakteristik manusia dan masyarakat masa depan yang dikehendaki. Karakteristik manusia masa depan yang dikehendaki tersebut adalah :

1.Manusia yang memiliki kepekaan, kemandirian, tanggung jawab terhadap resiko dalam mengambil keputusan, mengembangkan segenap aspek potensi melalui proses belajar yang terus menerus untuk menemukan diri sendiri dan menjadi diri sendiri yaitu suatu proses … (to) learn to be

2. Mampu melakukan kolaborasi dalam memecahkan masalah yang luas dan kompleks bagi kelestarian dan kejayaan bangsanya 


Langkah strategis bagi perwujudan tujuan di atas adalah adanya layanan ahli kependidikan yang berhasil guna dan berdaya guna tinggi. Student active learning atau pendekatan cara belajar siswa aktif di dalam pengelolaan kegiatan belajar mengajar yang mengakui sentralitas peranan siswa di dalam proses belajar, adalah landasan yang kokoh bagi terbentuknya manusia-manusia masa depan yang diharapkan.

Paradigma kinstruktivistik memandang bahwa peserta didik adalah pribadi yang sudah memiliki kemampuan awal sebelum mempelajari sesuatu. Kemampuan dasar tersebut akan menjadi dasar dalam menkonstruksi pengetahuan baru. Oleh sebab itu pengetahuan awal tersebut madih sangat sederhana sekalipun, menjadi tanggung jawab guru untuk mengembangkannya sesuai dengan standar kemampuan yang sudah digariskan dalam kurikulum.

Peranan kunci guru dalam perannya sebagai fasilitator dalam mengkonstruksi oengetahuan baru siswa adalah meliputi :

1. Menyediakan kesempatan bagi siswa untuk mengambil keputusan dalam bertindak, guna menciptakan kemandirian berfikir  

2. Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan peserta didik, guna menumbuhkan kemampuan mengambil keputusan dan bertindak.

3. Memfasilitasi dengan menyediakan sistem  dukungan yang memudahkan siswa untuk berlatih secara optimal untuk menumbuhkan potensi dirinya


Pandangan konstruktivisme  mengemukakan bahwa lingkungan belajar sangat mendukung mumculnya berbagai pandangan dan interpretasi terhadap suatu realita, konstruksi pengethuan, atau aktivitas - aktivitas lain yang didasarkan oada pengalaman mereka sebelumnya.

Pandangan konstruktivisme metakini bahwa realita ada pada pikiran seseorang, lalu dikonstruksi dan diinterpretasikan sesuai dengan pengalaman yang pernah dialaminya, struktur mental dan keyakinannya.

Pandangan konstruktivisme mengakui bahwa pikiran adalah instrumen penting dalam menginterpretasikan kejadian, obyek dan pandangan terhadap dunia nyata, dimana interpretasi tersebut terdiri dari pengetahuan dasar secara individual, serta pengalaman baru yang didapatkan.

Guru dapat membantu peserta didik mengkonstruksi pemahaman konseptual dari pengalaman baru yang diperolehnya dengan cara  menghubungkan dengan pengetahuan dasar yang telah dimiliki oleh siswa.

Selanjutnya, evaluasi terhadap pencapaian belajar konstruktivisme dapat dilakukan dengan menggunakan goal-free-evaluation, yaitu suatu evaluasi yang dilakukan dimana evaluator tidak diberi informasi terlebih dahulu tentang kriteria dalam evaluasinya. Evaluasi dalam aliran konstruktivisme diarahkan pada tugas - tugas autentik, mengkonstruksi pengetahuan yang menggambarkan proses berfikir tibgkat tinggi.


Kamis, 02 Februari 2023

BELAJAR


 

 Sebelum dibahas tentang bagaimana pembelajaran dilakukan, dan apa yang akan dihasilkan dari sebuah prosespembelajaran, maka yang terpenting adalah harus diketahui terlebih dahulu apa itu “ belajar”. Definisi belajar harus difahami terlebih dahulu sebagai kerangka dalam merumuskan langkah-langkah agar tujuan belajar dapat tercapai seperti yang dikehendaki.

Belajar adalah suatu sifat alami yang diberikan oleh Allah kepada hambanya yang bernama makluk hidup baik manusia maupun hewan. Secara alami sejak dilahirkan dan memulai kehidupannya di dunia semua makluk hewan dan manusia mengalami proses belajar. Jika hewan beajar untuk memenuhi kebutuhan makan dan mempertahankan eksistensinya, maka lain halnya dengan manusia yang diberikan keutamakan oleh Allah dengan diberikanNya akal dalam otak dan ppikiran manusia. Dengan akalnya, manusia tidak hanya belajar untuk mempertahankan hidupnya makan dan mempertahankan dari bahaya, bahkan lebih dari itu.Manusia dengan akalnya dapat memiiki budaya yang terus berkembang, dengan akalnya dapat menciptakan tekhnologi yang semakin maju, dan dengan akalnya manusia dapat berfikir tentang kebenaran. Hal itu semua diperoleh manusia dari proses belajar.

Lalu apa yang dimaksud dengan belajar ? Para pakar menjelaskan bahwa secara umum belajar merupakan suatu proses untuk berubah, baik perubahan pengetahuan dari tidak tahu menjadi tahu, perubahan sikap dari sikap yang buruk menjadi baik, maupun perubahan prilaku, kesemuanya diperoleh dari suatu proses yang disebut belajar.Belajar tidak dibatasi oleh ruang dan waktu, bahkan Rosulullah SAW pernah bersabda “ Belajarlah sampai ke Negeri Cina “, dalam hadits yang lain Rosulullah juga menyampaikan bahwa belajar dimulai dari masih di dalam kandungan sampai masuk tiang lahat. Secara harfiah, bisa difahami bahwa belajar bisa dilakukan kapan saja dan dimanapun berada. Semua yang ada disekitar kita dapat dijadikan sebagai sumber belajar, apapun itu mulai dari benda mati,  sampai pada omongan orang bijak, semua dapat menjadi media untuk belajar.

Belajar merupakan aktivitas mental atau psikis yang berlangsung bersama dengan interaksinya dengan lingkungan. Paling sederhana proses belajar dapat kita lihat dari anak mulai dari saat kelahirannya di dunia, diawali dengan belajar menghisap, belajar bersuara, belajar untuk berjalan, belajar bicara dan belajar  untuk menirukan gerakan-gerakan dan sikap orang diskelingnya, oleh karenanya keberadaan dan kondisi lingkungan akan sangat berpengaruh pada pola hidup dan sikap seorang anak, seperti fenomena “Tarzan” si anak hutan. Karena lingkungan disekitarnya merupakan sumber belajar yang setiap saat ditemuinya, maka lingkungan harus diciptakan menjadi sumber belajar yang baik bagi anak, lingkungan yang buruk akan menjadikan anak ikut berperilaku buruk, pun juga sebaliknya.

Belajar adalah sifat alamaiah yang sudah dianugerahkan Allah kepada manusia.Dalam setiap diri manusia bahkan hewanpun diberikan insing untuk belajar, yaitu belajar untuk mempertahankan hidup. Namun, manusia dijadikan istimewa oleh Allah karena manusia memiliki akal yang menjadikannya lebih baik dan lebih mulia dari makluk-makluk lain  ciptaan Allah yang Maha Kuasa.Namun sayang tidak semua manusia dapat mempergunakan potensi akal yang dimilikinya untuk belajar. Bagi mereka yang belajar dengan sungguh-sunggu baik secara formal di lembaga pendidikan ataupun dari lingkungan akan menjadi pribadi yang utuh, yang dapat diterima lingkungannya dengan sangat baik dan bahkan dihormati dan disegani oleh masyarakat disekitarnya karena ilmunya,  seperti janji Allah bahwa Allah SWT akan meningkatkan derajat orang-orang yang berilmu.

Beberapa pakar bahkan mencoba mendefinisikan tentang belajar, sebagai berikut :Winkel (dalam Alhadad, 2001:8), menyatakan bahwa belajar adalah suatu aktivitas mental/psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan dalam pengetahuan, pemahaman, keterampilan dan nilai sikap.

Winataputra, dkk. (1992:2), menyatakan bahwa proses belajar mencakup keseluruhan aktivitas peserta didik (siswa) dalam mencari dan/atau menerima serta mengolah informasi, melibatkan diri dalam interaksi sosial, bersikap, berbuat, mengatur dan memantapkan perilaku.

Pada dasarnya terdapat banyak pandangan tentang pendefinisian belajar, namun penulis secara umum mendefinisikan belajar adalah keseluruhan aktivitas siswa dalam berinteraksi secara aktif dengan sumber belajar, sehingga secara sadar terjadi berbagai perubahan yang kontinu dan bersifat positif terhadap mental, sikap dan tingkah laku siswa sebagai subjek dalam proses belajar  tersebut. Adapun sumber belajar dalam hal ini dapat berupa buku (sumber informasi lainnya), lingkungan (alam, sosial, budaya), guru atau sesama teman, bahkan perkembangan saat ini dengan berkembangnya teknologi komunikasi dan informasi, internet menjadi media belajar utama yang menyimpan beragam ilmu.

Terutama belajar disekolah, adalah belajar yang diformalkan oleh pemerintah dengan target-target dasar tententu yang diharapkan dengan akal yang dimilikinya manusia dapat mengembangkan pola pikir dan kecerdasannya sehingga tercapai tujuan dari proses velajar tersebut yang sudah digariskan oleh pemerintah. Sebagai salah satu sumber belajar dalam kegiatan belajar secara formal adalah guru, yang  sekaligus berperan  sebagai fasilitator dalam proses belajar dan mengahar yang disebut dengan proses pembelajaran. Meskipun demikian, guru dalam mengajarnya harus memegang rambu-rambu yang diberikan pemerintah yang disebut dengan kurikulum yang memuat standar-standar yang diharapkan jika siswa lulus dari jenjang tertentu. Namun, guru memiliki otoritas untukdapat menggunakan metode atau pendekatan pembelajaran apa saja yang dianggap cocok olehnya dalam proses pembelajaran yang tentunya akan disesuaikan dengan kondisi siswa dan tujuan dari pembelajaran yang dilaksanakan.

Belajar secara umum dalam lingkungan masyarakat tentunya tidak dibatasi dngan pendekatan-pendekatan atau metode-metode tertentu, secara naluri setiap individu akan menemukan caranya sendiri untuk belajar dari lingkungan mereka. Lain halnya dengan belajar secara formal di sekolah, para pakar sudah mengkaji secara khusus pendekatan-pendekatan dan metode yangdianggap paling efektif, agar pembelajaran di kelas dapat mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan secara optimal. U-ma